Teror Bom New York dan Sidang Akbar PBB
- Fox News.
Pengamat Hubungan Internasional dari President University, Anak Agung Banyu Perwita menilai, aksi bom sporadis ini bisa dihitung sebagai aksi by design atau rekayasa. Isu ini bisa dinilai sebagai pembenaran ucapan Trump, bahwa AS harus diproteksi dari imigran Muslim, juga Amerika Latin.
"Saya melihat ini sebagai ‘senjata’ Trump untuk meyakinkan konstituennya bahwa benar Amerika dalam ancaman teror besar. Indikasi adanya by design bisa saja terjadi. Tentu ini akan menjadi bahan menarik untuk diperdebatkan oleh dua calon Presiden AS," kata Banyu kepada VIVA.co.id, Senin, 19 September 2016.
Jika analisa itu benar, maka Trump semakin mendapat kesempatan untuk membenarkan pendapatnya soal imigran Muslim. Apalagi saat ini Kepolisian New York (NPD) sudah mengidentifikasi satu tersangka. Melalui akun Twitternya @NYPDnews, NYPD mengumumkan pencarian terhadap satu tersangka bernama Ahmad Khan Rahami.
Diberitakan BBC, Rahami adalah seorang warga negara naturalisasi AS yang berasal dari Afghanistan. Menurut polisi, pria berusia 28 tahun itu tinggal di kawasan Elizabeth, New Jersey. Ia kemungkinan membawa senjata dan berbahaya.
Hingga saat ini Trump memang belum memberikan pernyataan apa pun terkait aksi bom tersebut. Sidang Umum PBB juga masih akan berlangsung sepanjang pekan ini. Namun perkembangan dan penyelidikan atas serangkaian ledakan yang terjadi di New York tetap ditunggu.
Sepanjang pekan ini, mata seluruh penjuru dunia tertuju ke kota tersebut. Semoga aksi bom dan aksi teror lainnya tak sampai mengganggu jalannya sidang yang penuh pembahasan soal perang saudara di Timur Tengah, imigran dan pengungsi yang tak berkesudahan, juga terorisme dan aksi kekerasan yang menggila. Berharap cemas, resolusi yang dihasilkan akan membawa dunia pada perdamaian panjang. (umi)