Kejutan Trump
- REUTERS/Mike Segar
Sikap Putin seperti menyambut Trump. Dalam beberapa kampanye, Trump berulangkali mengatakan akan mengajak Putin bertemu dan berbicara. Ia juga pernah mengaku mengagumi Putin.
Namun, Menteri Luar Negeri Jerman, Frank Walter Steinmeier, mengaku tak memiliki bayangan bagaimana Trump akan memimpin Amerika. “Banyak sekali tekanan isu yang terus terbuka, tentu kami akan bertemu untuk bicara dan bersepakat dengan isu-isu tersebut,” ujar Steinmeier seperti dikutip dari Reuters, 9 November 2016.
Ucapan Steinmeier ada benarnya. Saat ini, Amerika disibukkan dengan isu luar negeri. Mulai dari perjanjian nuklir dengan Iran, koalisi internasional memerangi ISIS di Irak dan Suriah, memerangi terorisme, adu pengaruh dengan China di Laut China Selatan, intrik dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, hingga kerja sama Trans Pacific Partnership.
Seluruh isu yang tengah dihadapi AS itu juga membuat pemimpin NATO, Jens Stoltenberg bertanya soal tersebut. “Bagaimana Amerika akan menghadapi soal terorisme?” tanyanya. Tapi Stoltenberg mengatakan siap untuk berdiskusi. Ia menekankan, kerja sama dengan militer Eropa bisa menjadi kuncinya.
Tapi berbeda dengan Steinmeier, Wakil Kanselir Jerman Sigmar Gabriel justru melihat kemenangan Trump sebagai sebuah ancaman. Kepada media Jerman Funke Mediengruppe, ia mengatakan, kemenangan Trump adalah peringatan bagi Jerman dan Eropa.
Ia mendesak agar pembuat kebijakan lebih mendengarkan suara rakyat. “Trump adalah pionir dari otoritarian gaya baru, dan gerakan cauvinisme internasional. Dia juga sebuah peringatan untuk kita,” ujar Gabriel, seperti dikutip Reuters, 9 November 2016. “Jerman dan Eropa harus berubah jika ingin menghadapi gerakan otoritarian internasional ini,” Gabriel menambahkan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, berharap Trump tetap menjaga komitmen dengan Iran soal perjanjian nuklir. “Amerika Serikat harus menetapkan komitmennya soal tindakan dari rencana perjanjian menyeluruh atau perjanjian kesepakatan nuklir sebagai perjanjian multilateral internasional,” ujar Zarif.
Di Indonesia, kemenangan Trump ditanggapi berbeda. Presiden RI Joko Widodo mengatakan, siapa pun presidennya hubungan Indonesia dan Amerika akan baik-baik saja. “Terutama hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi. Kita tahu, Amerika termasuk investor lima besar di Indonesia. Jadi saya rasa hubungan kita akan baik-baik saja,” ujar Presiden di Istana Negara, Rabu, 9 November 2016.