Bom Waktu 'Tentara' Siber
- Pixabay/Tigerlily
Abimanyu menuturkan, tenaga keamanan siber yang direkrut ini tentu memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Sistem kerja ‘tentara’ siber itu berbeda dengan pola kerja PNS yang mempunyai aturan acuan. Sebagai catatan, yaitu perang siber bisa datang tanpa diduga dan tanpa aturan baku.
Selanjutnya, bukan kontest hacking>>>
Bukan kontes hacking
Eva menjelaskan, bagi yang berminat dengan program ini, para kandidat ini harus minimal usianya 17 tahun yang tertarik soal keamanan siber dan melatihnya ke tingkat lebih lanjut lagi, sehingga masuk kategori ahli.
Program Born to Control berusaha menghimpun 10 ribu ahli keamanan siber melalui tahapan seleksi dan audisi di 10 kota, yaitu Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Bali, Samarinda, Makassar, dan Manado.
Tahap pertama, program menghimpun 10 ribu pendaftar keamanan siber secara nasional, kemudian pada tahap kedua disaring 1000 paling top dari 10 kota tersebut.
Tahap ketiga, peserta terpilih disaring lagi menjadi 100 orang untuk masuk ke tahap final. 100 orang hasil tahap ketiga akan masuk dalam bootcamp training selama dua pekan. Dari situ maka masuk tahap keempat dengan keluar 10 pemenang.
"Yang 100 orang ini, nanti kita tawarkan jika mau bekerja masuk industri," ujarnya.
Sejak program diluncurkan pada luncurkan secara resmi pada Senin 30 Januari 2017 sampai Rabu malam 1 Februari 2017 pukul 19.30 WIB, peminat yang mendaftar sudah mencapai hampir 2300 orang.
Perempuan itu mengakui, memang program ini dihadirkan sebagai 'pasukan' jika negara dan perusahaan Indonesia membutuhkan tenaga. Dia membantah, ide program ini hanya cenderung berat untuk memasok kebutuhan keamanan dalam industri.
Dia mengatakan program ini bukan sebatas kontes hacking, tapi di sini peserta akan dilatih kemampuan keamanan siber sesuai kebutuhan industri dan teknologi. Eva mengatakan, saat ini tergolong susah mencari SDM keamanan siber, sebab bakat yang dibutuhkan bukan hanya keahlian saja, tapi minat dan seni siber juga.
Eva mengatakan, program ini memasok kebutuhan di industri bukan karena tidak peduli dengan tugas mempertahankan keamanan siber negara. Program memiliki arah ke industri, karena faktanya perusahaan mengeluh susah untuk mencari bakat keamanan siber.