Bom Waktu 'Tentara' Siber

Ilustrasi-teroris siber.
Sumber :
  • Pixabay/Tigerlily

General Manager Network Security Management Telkomsel, Ariyanto Agus Setyawan mengeluhkan susah mencari bakar siber yang paham ruang lingkup pengelolaan tata kelola siber, pembuatan arsitektur keamanan, rilis sistem baru, operasional infrastruktur perangkat keamanan, hak akses, manajemen tambalan (patch management), keamanan fisikal, sampai komunikasi aspek keamanan.

Ariyanto mengatakan, perusahaan butuh orang yang tak hanya paham coding saja, tapi paham potensi serangan atau fraud, logika serangan sampai bisa memperkirakan apa yang terjadi. 

"Ini semua membutuhkan keahlian khusus yg sedikit berbeda dengan keahlian sejenis," kata dia. 

Maka dengan kondisi tersebut, perusahaan tak bisa hanya mengandalkan mantan peretas, atau orang yang ahli menjebol sistem. Peretas belum mencukupi untuk mengontrol keamanan. Dia mengatakan untuk bekerja di sektor pengamanan', perusahaan utuh orang yang bisa menjebol, sekaligus bisa mengontrol kondisi tersebut tidak terjadi.

"Mencari orang dengan talenta yg demikian tidaklah mudah, standar kompetensi belum begitu jelas dan yang pasti teknik serangan, fraud dan pencurian nya berkembang dari waktu ke waktu, sangat sulit dikejar. Bakat dan minat sangat penting di sini," kata Ariyanto. 

Beritkunya, darurat siber>>>

Darurat siber

Bombardir serangan siber sementara dalam pertahanan siber yang bopeng, Rudi tak ragu menyatakan kondisinya sudah terbilang gawat. 

"Kita sudah darurat siber, kalau enggak ada yang serius membenahinya bisa-bisa ada bom waktu siber nanti," ujarnya. 

Dia berpandangan, iniasi rekrutmen 'tentara' siber yang digalang dalam program Born to Control harus dimasifkan. Rudi berpandangan, umumnya ada lima hal yang harus dibenahi, agar bisa keluar dari kondisi darurat siber. 

Pertama, kelembagaan yang berwenang khusus mengenai keamanan siber nasional, termasuk yang berada di level strategis, taktis maupun operasional. "Itu segera dibentuk," kata dia. 

Kedua, kerangka hukum yg menjadi dasarnya juga harus dilengkapi. Ketiga, capacity bulding untuk penyediaan SDM-nya terus digalakkan secara masif termasuk partisipasi seluruh masyarakat.

Keempat, semua institusi dan organisasi yang sudah berbasis teknologi informasi harus segera menaati standar keamanan siber yang baku. Kelima, kerja sama internasional antarlembaga keamanan siber terus digalakkan karena serangan siber datang secara global dan sporadis dari mana saja.