Menuntut Si Perusak Surga Raja Ampat
- crossingindonesia.com
Profil Kapal MV Caledonian Sky
Nakhoda: Kapten Keith Michael Taylor
Penumpang: 102 Orang, 79 ABK
* Amerika Serikat (3)
* Kanadia (2)
* Inggris (86)
* Irlandia (2)
* Indonesia (2)
* Swedia (7)
Bobot kapal: 4.200 GT
Panjang: 90 Meter (295 feet)
Rute: Papua Nugini(25 Februari)-Filipina (14 Maret)
Pengabaian fenomena alam itu lah yang kemudian membuat kapal pesiar raksasa itu tetap memaksa melintas lantaran harus membawa rombongan turis ke tempat lain.
Bahkan, kapal ini juga sempat meminta kapal SAR untuk menarik mereka. Namun sia-sia, air surut dan kapal yang besar tak bisa ditarik. Kapal itu pun baru bisa dievakuasi setelah air kembali naik pada malam hari, sekira pukul 22.30 waktu setempat.
Menurut Prasetyo, diakui memang sangat riskan membawa kapal besar khususnya yang memiliki draft (kedalaman kapal) hingga lebih dari dua meter masuk ke Raja Ampat.
Sebab, kawasan itu memiliki pasang surut. Ketika pasang air memiliki kedalaman hingga 5 meter lalu surut dengan kedalaman kurang dari 2 meter.
"Banyak sekali spot di Raja Ampat yang dangkal kalau surut. Karena itu, kapal dengan kedalaman draft 2 meter harus hati-hati sekali," kata Prasetyo.
FOTO: Kondisi pertama kapal MV Caledonian Sky saat pertama kali kandas di perairan Raja Ampat Papua Barat, 4 Maret 2017
Selanjutnya, Kerusakan Terumbu Karang
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Sumber Daya Kelautan Pasifik Universitas Negeri Papua Ricardo Tapilatu menyebutkan bahwa kerusakan terumbu karang itu seharusnya bisa tak terjadi, jika kapal mewah tersebut mengetahui fenomena pasang surut di Raja Ampat.
Sebab, meski kapal canggih ini memiliki GPS dan radar serta ecosounder, pasang surut adalah fenomena alam yang harus menjadi perhatian penting kapal yang akan melintas di Raja Ampat.
Tak cuma itu, Tapilatu juga mengisyaratkan ada unsur kelalaian dari sejumlah petugas di kawasan Raja Ampat. Sebab, ketika MV Caledonian Sky melaporkan kapal mereka kandas, kapal tunda bernama Audrey Bob Tanjung Priok justru membantu proses evakuasi dengan menarik kapal tersebut agar bisa mengapung lagi.
"Seharusnya itu tidak dilakukan karena akan merusak terumbu lebih parah. Mereka (kapal tunda) seharusnya menunggu laut pasang," kata Tapitalu.