Anak Bruce Lee Laporkan Restoran Cepat Saji di China

Bruce Lee.
Sumber :
  • facebook.com/BruceLee

VIVA – Perusahaan milik anak perempuan Bruce Lee, Shannon Lee, melaporkan restoran cepat saji China, Real Kungfu karena menggunakan foto bintang seni beladiri martial arts tersebut. Shannon mempolisikan restoran itu karena menggunakan foto sang ayah dalam logonya tanpa izin.

Shannon lantas meminta pihak restoran mengganti foto tersebut dan menuntut uang ganti rugi sebesar US$30 juta atau sekitar Rp418,6 miliar. Namun, pihak restoran mengatakan bahwa pemerintah setempat telah mengeluarkan izin bagi mereka untuk menggunakan logo tersebut.

Logo yang digunakan restoran itu diketahui berupa pria berambut hitam dengan pose kuda-kuda atau gerakan martial arts. Demikian dilansir dari laman BBC, Mingggu, 29 Desember 2019.

"Logo Real Kungfu adalah sesuatu yang telah kami ajukan dan kami dapatkan setelah screening panjang oleh agensi merek dagang nasional China. Kami telah menggunakan logo ini selama 15 tahun," demikian pernyataan resmi restoran di akun resmi Weibo.

Pihak restoran juga mengungkapkan bahwa mereka heran dengan adanya kasus pelaporan ini.

"Kami bingung setelah bertahun-tahun ada, kini kami dilaporkan. Sekarang kami sedang mempelajari kasusnya dan menyiapkan respons," lanjut pernyataan itu.

Sebagai informasi, restoran cepat saji yang berada di bawah naungan perusahaan berbasis di Guangzhou bernama Zhen Gongfu tersebut berdiri pada 1990, dan telah memiliki sekitar 600 outlet di seluruh penjuru China.

Sementara itu, Bruce Lee Enterprises, perusahaan yang dipimpin Shannon diketahui menangani seluruh penjualan dan lisensi Bruce Lee.

Dalam sebuah pernyataan di situs resminya, perusahaan itu menuliskan bahwa mereka berdedikasi untuk berbagi seni dan filosofi Bruce Lee untuk menginspirasi pertumbuhan pribadi, energi positif dan keharmonisan global dan bertujuan untuk menjaga energi bela diri Bruce Lee tetap hidup.

Bruce Lee Enterprises sendiri tidak segera menanggapi permintaan komentar. Kasus ini kemungkinan akan diawasi dengan ketat karena pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir berjanji untuk meningkatkan perlindungan hak kekayaan intelektual.