Kisah Inspiratif Bintang IBL, Bola Basket Selamatkan Hidupnya

Legiun asing IBL 2020 klub Pacific Caesar Surabaya, Taylor Statham
Sumber :
  • instagram.com/therealtstat/

VIVA – Berjuang untuk bisa bangkit dari terpurukan sepertinya sudah menjadi bagian dari jiwa seorang olahragawan. Menolak menyerah hadapi tantangan dan kemustahilan juga jadi naluri sang petarung sejati.

Hal itu pula yang jadi bagian riwayat hidup satu diantaranya pemain asing klub Indonesian Basketball League (IBL), Pacific Ceasar Surabaya. Dan bagi publik kota Surabaya, sosok bule yang satu ini sepertinya juga sudah tak berlabel  warga“asing” lagi.

Ya, bagi Taylor Statham atmosfer kota Pahlawan seakan juga sudah dirasakannya seperti berada di rumah sendiri. Namun dari hal itu semua, Statham punya kisah menyentuh yang membuatnya masih bisa bermain basket hingga saat ini.

Jalan hidup Statham dan bola basket sangat dramatis. Secara tak langsung, bola basket pernah menyelamatkan hidupnya.

Ketika berusia 18 tahun, ketika melakukan latihan basket lalu pangkal pahanya harus terkena dengkul lawan, Statham pun terguling di lapangan menahan sakit. Selangkangannya membengkak dan hanya bisa bertahan dalam beberapa minggu ini saja.

Pebasket asal Los Angeles, Amerika Serikat itu pun akhirnya pergi ke dokter dan kemudian menemukan kanker di bagian vitalnya.

"Mereka mengatakan jika saya datang beberapa bulan lagi atau jika saya tidak tahu, kanker itu sudah akan menyebar ke seluruh tubuh saya," ungkap Statham seperti dikutip dari Larry Brown Sport.

“Namun lucunya, pelatih saya saat sekolah menengah selalu meminta saya melakukan charge alih-alih mengadang tembakan, tetapi saya tak pernah melakukannya. Saya akhirnya melakukan charge untuk bersiap menuju college dan itu yang menyelamatkanku,” jelas Statham kepada para wartawan.

Setelah menjalani dua sesi kemoterapi selama enam minggu dan rambut Statham pun mulai rontok dan berat badan terus berkurang, Statham pun dinyatakan bebas kanker.

Statham pun kemudian mendapatkan kesempatan uji coba di Cal Baptist yang bermain di Divisi 2 untuk membayar ambisinya yang gagal menembus college Divisi 1 saat tengah fokus pemulihan kanker.

Statham menghabiskan berjam-jam perhari untuk menambah kemampuan basketnya sebelum pengobatan kankernya. Proses yang membutuhkan waktu berjam-jam itu pun dengan semangan dilakoni Statham untuk bisa kembali pulih setelah proses perawatan selesai.

Faktanya, dia malah kembali bekerja sebelum sesi kemoterapi terakhirnya, meskipun dokternya mendesaknya untuk menunggu beberapa minggu sebelum bermain basket. Dalam kondisi tubuh yang masih rentan keterbatasan, selama liga berjalan, Statham justru mampu mencetak 25 poin, meraih 13 rebound dan memberikan 11 assist.

Semangat Statham diharapkan menular pada Pacific Caesar. Apalagi dia sudah paham dengan karakter bola basket Indonesia khususnya Surabaya. “Pengalaman pernah bermain di Indonesia akan membantu. Saya gembira,” tegas Statham seperti dilansir situs resmi IBL.