Mengapa Anak Muda Harus Berpolitik

Ilustrasi anak muda.
Sumber :
  • ist/bondclinic

VIVA.co.id – Anak muda selalu menjadi identitas penting dalam proses transformasi atau perubahan masyarakat. Keberadaan anak muda selalu terkait dengan kemajuan sebuah bangsa. Dalam laporan McKensey Global Institute, Indonesia 15 tahun lagi akan menjadi negara nomor 7 terbesar pertumbuhan ekonominya di dunia. Selain itu, Indonesia juga akan memiliki 135 juta kelas konsumen baru serta 113 juta pekerja yang memiliki keahlian tertentu.

Kondisi ini dapat tercipta jika peluang bonus demografi dapat dimanfaatkan. Bonus demografi adalah keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh menurunnya angka ketergantungan sebagai hasil dari penurunan fertilitas/kelahiran jangka panjang, (Wongboonsin, dkk.2003).

Pada bulan Mei 2010 lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mengadakan  sensus penduduk Indonesia yang menemukan bahwa rasio ketergantungan bangsa Indonesia hari ini menyentuh 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif dan belum produktif  (>15 dan 65<). Itu artinya, beban tanggungan penduduk usia produktif saat ini relatif kecil, di mana 1 orang usia tidak produktif menjadi beban bagi 2 orang usia produktif.

Selain itu, potensi anak muda dalam setiap pemilu sangatlah menarik. Jumlah pemilih pemula tidak kurang dari 30%, angka yang sangat besar. Mereka adalah captive market yang sangat besar bagi sebuah partai politik ataupun kandidat kepala daerah. Sebuah partai politik yang sanggup meraih dukungan terbesar dari anak muda dapat dipastikan partai tersebut menjadi pemenang dalam setiap pemilu.

Karakteristik anak muda

Untuk dapat meraih dukungan anak muda, kita harus mengenali karakteristik dan tata nilai anak muda ini. Beberapa tata nilai, impian, dan cita-cita anak muda di Indonesia menurut survey LSI, antara lain:

1. Anak muda yang tertarik dalam politik secara umum tidaklah besar. Yang sangat tertarik dengan politik hanya 5.5%, sementara yang agak tertarik 23.1%. Angka ini sama dengan angka kelompok anak muda yang tidak tertarik dengan politik sama sekali, sekitar 28.9%. Sedangkan, mayoritas anak muda hanya memiliki ketertarikan dengan politik sangat kecil

2. Walaupun mayoritas anak muda hanya sedikit rasa tertariknya terhadap politik, namun mereka selalu memperhatikan event politic yang sifatnya lokal. 27.6% anak-anak muda selalu mengikuti perkembangan event pemilihan pilkada sampai pilkades. Korupsi, penyalahgunaan jabatan, serta skandal politik lainnya adalah event politic yang selalu mencuri perhatian anak-anak muda. Sebanyak 24.5% anak-anak muda mengikuti isu dan perkembangan sebuah peristiwa skandal politik. Sebaliknya isu dan perkembangan soal perang di Syiria, Iraq, konflik di Palestina bahkan perkembangan Masyarakat Eknomi Asean (MEA) sangat kecil mendapatkan perhatian anak-anak muda. Hanya 2.3% sampai 7.0%. Alih-alih memperhatikan isu-isu dari luar, anak muda lebih tertarik dengan event pileg ataupun pilpres, yaitu sebesar 16.6%.

3. Isu-isu yang menarik perhatian anak muda adalah soal pencemaran lingkungan, sebanyak 49.7% anak muda sangat prihatin dengan adanya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Isu lainnya adalah soal lapangan pekerjaan. Anak-anak muda menaruh perhatian yang sangat besar terhadap lapangan pekerjaan. Bagi anak muda kehilangan atau kesulitan mencari pekerjaan menyita perhatian 47.5%. Semangat gotong royong dan membantu sesama juga sangat tinggi menjadi spirit anak muda. Kegiatan-kegiatan kampanye perlindungan dan pencegahan HIV/AIDS juga mendapatkan 47.1% perhatian anak muda. Selain itu, anak-anak muda juga menaruh keprihatinan yang besar pada aktifitas yang berkaitan dengan pelestarian budaya. Sebanyak 43.9% anak-anak muda prihatin dengan hilangnya tradisi serta kebudayaan lokal.


Bahaya buta politik

Tanpa kita pungkiri bahwa ketidaktahuan kita terhadap potensi yang dimiliki oleh anak-anak muda telah melahirkan “gap” antara pemuda dan politik. Tidak jarang kondisi itu diperparah dengan deparpolisasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Alhasil kita menangkap fenomena apatisme politik di kalangan pemuda. Hal ini dapat kita lihat jelas dalam partisipasi politik yang dilakukan oleh anak muda yang jumlahnya sangat sedikit.

Fenomena deparpolisasi tidak boleh dibiarkan. Anak-anak muda harus kita dekatkan dan akrabkan dengan dunia politik. Impian dan cita-cita idealitas politik anak muda harus kita tampung dan wadahi. Politik tidak boleh dihadirkan dalam definisi dan pengertian yang negatif.

Politik tidak sama dengan korupsi. Politik berbeda dengan penyalahgunaan kekuasaan. Politik tidak mementingkan kelompok dan diri sendiri. Namun, politik adalah sarana untuk menyalurkan aspirasi warga negara. Politik adalah sarana membangun dan memperjuangkan nilai-nilai. Politik adalah sarana untuk terlibat dalam menentukan hajat hidup orang banyak.

Dalam pandangan politik rahmatan lil ‘alamin, politik merupakan bagian dari syari’at Islam (juz’un min ajzaaissyari’ah). Sehingga politik harus selalu bersesuaian dengan upaya mensejahterakan rakyat dan upaya melindungi aqidah umat. Karenanya, semua hal selalu berhubungan dengan politik, harga-harga komoditas, biaya sekolah, harga obat dan kesehatan, serta arah kemajuan sebuah bangsa ditentukan dalam sebuah keputusan politik.

Saatnya kini anak-anak muda berpartisipasi dalam politik dan memimpin perubahan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan menjadikan politik sebagai ibadah. (Tulisan ini dikirim oleh Billy Ariez, Jakarta)