Si Cantik Parmi yang Konyol
- U-Report
Parmi pergi sambil melambaikan tangannya ke arah para juri. Para juri dengan reflek melambaikan tangan ke arah Parmi. Salah satu juri berkata sambil marah, “Bagaimana mungkin kalian menerima wanita itu sebagai petinju. Ia menjadi pembawa papan skor saja penonton kabur semua. Bagaimana nasib kita besok? Bisa-bisa semua penonton kabur lagi.” Juri lain menjawab, “Tenang sajalah kawan. Kita tak enak hati menolak wanita cantik. Siapa tahu wanita ini bisa tinju.” Juri yang marah tadi menjawab, “Macam mana kau ini. Badan kecil seperti itu kau jadikan petinju. Kau sudah gila!”
Tibalah saatnya pertandingan baru. Hari ini Parmi tampil sebagai petinju. Parmi sangat bersemangat untuk bertarung. Semalam ia berlatih dengan giat. Parmi latihan tinju, push up, sit up dan trik bertahan dengan ayahnya. Ayah dan ibunya pun hadir ikut menonton. Parmi melompat dan bergaya seperti petinju sesungguhnya.
Acara tinju dimulai. Di sisi kanan Parmi dan sisi kiri adalah Kimberly. Parmi memakai kostum warna merah muda, sedangkan Kimberly memakai kostum hitam. Kimberly adalah wanita bule. Ia bertubuh besar dan kekar untuk ukuran wanita. Mereka berdua bertarung. Entah mengapa Kimberly merasa aneh dengan ketiak Parmi yang berbulu lebat. Kimberly tidak fokus dan sering mendapat serangan tinju dari Parmi. Karena mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Parmi, Kimberly akhirnya KO. Penonton berteriak riuh.
Juri yang marah-marah kemarin berkata, “Bagaimana mungkin Kimberly sang juara tinju wanita kalah dengan Parmi yang berbadan kecil seperti itu, rasanya mustahil. Ini sangat aneh”. Salah satu juri menjawab, “Sudah ku bilang kawan, Parmi itu bisa tinju. Ia bisa saja menang karena dari awal ia punya keinginan kuat untuk mengikuti lomba ini”. Juri yang marah-marah berkomentar, “Semua ini omong kosong. Terlalu, jagoanku Kimberly tumbang. Ini sudah gila!”
Di sisi lain, Parmi sedang menerima sabuk emas. Parmi berteriak, “Ayah, Ibu, lihat Parmi mendapat sabuk emas”. Juri yang ketus itu mengomel lagi, “Dasar wanita deso, kampungan. Pakai acara teriak-teriak lagi.” Saking senangnya Parmi turun dari ring tinju menuju meja juri. Semua juri di berikan pelukan dan ucapan terima kasih. Juri yang ketus tadi berubah simpatik kepada Parmi karena melihat Parmi mengucapkan terima kasih.