Pengais Tuhan

Ilustrasi pengais sampah.
Sumber :
  • ANTARA/Aditya Pradana Putra

“Nak, di mana kamu tinggal?” pria tua itu mencoba memecah kesunyian malam. Bocah itu tak menjawab. Baginya, pertanyaan-pertanyaan itu sudah sering ia dengar. Suara-suara seperti itu adalah suara-suara hampa tanpa makna yang ia dengar setiap hari dan setelah ia menoleh suara itu menjauh dan menjauh dan pergi tanpa peduli. Yang paling penting baginya sekarang adalah makanan.

“Di mana kamu tinggal, Nak?” Bocah itu tak merespons. Pria itu berbeda. Ia tidak hilang akal. Ia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebongkah roti cokelat dari dalamnya. Aroma roti cokelat itu dengan cepat mencemari udara hingga hinggap di hidung sang bocah.

Ia menoleh, menatap wajah sang pria yang semenjak memegang roti itu sudah mengumbar senyum. Bocah itu mendekat dengan belas kasihan yang sungguh, mengharapkan dengan sangat dapat meraih roti cokelat itu. Pria tua itu segera tahu apa yang bocah itu mau.

Dia menyodorkan roti itu kepada sang bocah yang langsung menyambar pemberian itu. Dengan rongga mulut yang kering akibat rasa lapar yang akut, bocah itu melahap roti cokelat itu tanpa sisa.

“Di mana kamu tinggal, Nak? tanya pria berjas itu sekali lagi.
“Di Pasar Oebobo,” jawab bocah itu dengan mulut yang penuh roti.
Pria itu menggeleng seperti timbul simpati di dalam hatinya.
“Kamu sendiri?”
Bocah itu mengangguk.
“Orang tua?”
Bocah itu menggeleng”
“Keluarga?”
Ia menggeleng. Roti di mulutnya hampir selesai dikunyah.
“Teman?”
Ia mengangguk. Bocah itu mulai bercerita.

Teman-teman saya ada di tempat-tempat kotor di kota ini. Mereka mengais seperti saya. Mereka mencari makanan sisa siang-malam. Mereka pun tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapat secuil makanan. Roti yang seperti saya dapat ini sudah terlalu banyak.

Mereka pasti akan iri melihat roti ini ada di dalam mulut saya. Ya, mereka semua tersebar di semua penjuru kota seperti tikus-tikus kota yang lapar sedang mencari makanan di pembuangan-pembuangan.

Pria itu menatapnya. Ia dapat merasakan kerasnya hidup di kota ini melalui mata bocah yang kini ada beberapa centi di hadapannya.
“Kita cari mereka yang lain!” Sejurus kemudian keduanya meninggalkan tempat kumuh itu. Mobil kijang tua itu melesat di jalanan kota yang sepi, menembusi malam yang dingin, mencari bocah-bocah kelaparan itu. Hasilnya;