Pengais Tuhan

Ilustrasi pengais sampah.
Sumber :
  • ANTARA/Aditya Pradana Putra

Namun, malam itu, bayangan pria itu berubah seketika. Bocah di hadapannya berbeda. Aneh. Ia sedang mencari sesuatu (atau seseorang) yang tidak dicari pengais lainnya. Yang dicarinya bukan makanan. Ia tidak lapar.

Lama berdiri dan menatap dan tergerak oleh penasaran, pria itu kembali bertanya sambil memasukkan roti cokelat ke dalam saku jasnya, “apa yang kamu cari, nak? Kalau bukan makanan, apalagi yang kamu cari?”

Mendengar suara lembut itu, bocah itu berhenti mengais, membalikkan tubuhnya yang kurus, menatap kembali pria aneh itu. Wajahnya kotor, lusuh. Tubuhnya layu. Pakaiannya penuh bercak sampah lembab. Tapi sorot matanya yang nanar memandang tajam jauh penuh harap hamparan cakrawala yang menudungi kota.

“Saya sedang mencari Tuhan,” seru bocah itu memecah sunyi dan sayup-sayup angin malam.

Pria itu menganga.

“Saya sedang mencari Tuhan di tempat sampah ini. Saya yakin Tuhan sudah terbuang di tempat kotor ini dan saya ingin menemukannya lagi. Kota ini telah membuang-Nya. Maukah Tuan membantu saya menemukan-Nya di sini, di tempat najis ini?”

Pria itu membisu. Dengan sedih ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi sambil berharap tidak bertemu bocah itu lagi.  (Tulisan ini dikirim oleh Ricko W, Peminat sastra, tinggal di Ledalero, Maumere, Flores NTT)