Pengais Tuhan
- ANTARA/Aditya Pradana Putra
Seorang bocah sendirian, tengah mengais dengan serius sekali di antara gedung-gedung pertokoan Lai-Lai Besi Kopan yang menjulang mengangkasa, sebuah simbol kapitalisme yang mustahil lenyap dari sejarah peradaban manusia. Wajah bocah itu kotor, pakaiannya compang-camping. Satu kesan yang muncul; lapar mengalahkan dinginnya malam. Malam itu sungguh menjadi miliknya sendiri. Di benaknya mungkin hanya ada dia dan bumi yang dipijak.
Mobil itu berhenti beberapa meter saja dari si bocah kumal. Sang pria tua turun dari mobil meninggalkan bocah pertama yang ditemukan tadi di dalam mobil. Pria itu menatap si bocah dengan kasihan.
“Nak, apa yang kamu cari?”
Dia terus mengais, seolah tak mendengar apa-apa. Baginya, menjawab sama saja dengan menanggung malu yang ke sekian kalinya sebab yang akan ia dapat hanya cemoohan konyol yang sangat tidak perlu sebenarnya.
Pria itu tahu apa yang dia butuhkan. Ia mengeluarkan sebungkus roti cokelat dari dalam saku jasnya. Segera, aroma roti itu menyengat di udara dan sampai di hidung bocah pemulung itu. Ia sejenak menyibak, menoleh sebentar ke arah datangnya aroma roti. Pria itu tersenyum, menunjukkan giginya yang putih kekuning-kuningan. Bocah itu tak membalas senyum. Ia kembali mengais, mengais, mencoba menemukan sesuatu yang terbuang percuma di tempat sampah yang tidak diperlukan lagi oleh warga kota. Tak sedikit pun ia tergiur dengan sepotong roti cokelat yang ia anggap fana itu.
Pria itu terpaku. Heran. Bocah ini tidak seperti yang ia bayangkan; tidak seperti bocah yang pertama dan mungkin bocah-bocah lain yang lapar dan begitu senang ketika mencium aroma roti cokelat. Pria itu bertanya-tanya dalam hati.
“Apa yang sedang bocah ini lakukan, apa yang sedang ia cari di tempat sampah kota ini? Bukankah sepanjang sejarah kota, hanya orang-orang lapar saja yang mengais-ngais di tempat-tempat sampah kota, mencari sesuatu yang bisa dimakan hanya untuk menambal perut yang sudah terlanjur tak berisi? Bukankah setiap pengais di kota ini akan segera berhenti mengais apabila sudah mendapat apa yang ia butuhkan yakni makanan atau sesuatu yang bisa dijual, ditukar dengan uang untuk kemudian membeli makanan?”