Hikayat Si Gadis Kuyang

Hantu Kuyang di malam hari
Sumber :
  • U-Report

Pagi-pagi buta, ia sudah siap dengan dandanan yang sempurna. Mustikanti hendak memamerkan ujung kaki hingga ubun-ubun kepalanya pada semua pasang mata di keramaian itu. Ia benar-benar tampil menawan pagi itu. Ia bukan lagi gadis celaka yang buruk rupa, kini ia gadis mutiara yang bahkan lebih indah dari Nawang Wulan, sang bidadari khayangan.

Antara percaya dan tidak, “Kaukah itu Mustikanti? Si gadis celaka di kampung ini?” teriak seorang perempuan separuh baya padanya. Entah perjaka mana yang akan siap menjadi Jaka Tarub-nya di hari itu. Bukan main, seisi pasar heboh dibuatnya. Perjaka-perjaka muda dibuat sibuk olehnya. Mata mereka dipaksa sibuk melototi seluruh lekuk tubuh, pun dengan mulut mereka yang disibukkan dengan siulan-siulan. Bahkan di hari itu, ada beberapa perjaka yang datang ke rumahnya, tak sabar untuk mempersunting diri Mustikanti.

Namun, karena sifat dengki masih menjarah hatinya, Mustikanti mematahkan semua hati perjaka yang datang. Tanpa terkecuali hinaan juga ia keluarkan dari bibirnya, sebagai persembahan untuk para perjaka hidung belang itu. Dendamnya dibayar tuntas di hari itu juga. “Rasakan apa yang kurasa. Dasar perjaka kadal! Di kala aku terhina, melihatku pun kau enggan.” ucapnya lantang di depan para perjaka itu.

Malam itu begitu mencekam. Kesunyian turut ikut andil dalam memeriahkan malam celaka ini. Pun dengan lampu-lampu rumah penduduk yang biasanya menyala remang-remang, kini serentak padam. Hanya senter yang kadang berkedip-kedip secara acak. Tepat pada satu jam setelah tengah malam, tiba-tiba para penjaga kampung di depan sebuah gardu tua dikagetkan dengan munculnya makhluk yang hanya berkepala dan berjeroan, sedang berjalan melayang, berlalu di hadapan para penjaga tersebut. Para penjaga tak kuasa berteriak, tak mampu pula bergerak menjauh dari makhluk itu.

Beruntung, hantu aneh itu tak hirau pada mereka. Sesaat setelah makhluk berkepala dan berjeroan itu berlalu dan hilang ditelan gelap malam, seorang dari penjaga itu tersentak, kemudian menarik kedua temannya. “Segera sampaikan ke seluruh penduduk desa, bahwa mulai malam ini, desa kita dihantui oleh si Kuyang!” perintah sang penjaga pada kedua temannya. Sekonyong desa menjadi geger pagi itu. Seorang perempuan paruh baya menjerit histeris, melihat perut sapi ternaknya berlubang terkoyak. Seisi perutnya pun telah hilang. Seperti ada segerombol ajag kelaparan menghabisinya.