Cerita Cintaku

Ilustrasi cinta.
Sumber :
  • U-Report

Pukul 00.00, tengah malam, di rumah sakit masih sangat ramai. Temanku kembali ke ruangan, sementara aku menemani pacarku, jadi kami hanya tinggal bertiga bersama temannya. Aku bercakap-cakap dengan dia, dan temannya menyanyi sendiri sambil asyik bbm-an. Kami masih berjarak duduknya, soalnya aku masih malu–malu kucing gitu. Sampai tiba jam 01.00 dia pulang dan aku masuk kembali ke ruangan.

Hari tak terasa, bulan pun terlewati. Aku sangat merindukanya, dan aku pun telah benar sayang padanya. Aku sudah mulai mengenali dirinya dan aku senang sekali punya pacar rajin salat ya intinya ingat salat . Aku dan dia tidak terlalu romantis, malah kadang berantem terus. Tapi tidak sampai berhari-hari, paling hanya beberapa  jam saja sudah baikkan.

Dia sangat perhatian, cuma bicaranya agak kasar dan pikirannya selalu negatif. Aku tidak suka pacarku bicaranya negatif, entahlah mungkin kebiasaannya dulu buruk. Aku mulai berniat ingin mengubah perilakunya yang kurang bagus, tapi itu terkadang memang susah apalagi kalau dia tidak ada niat dari hati untuk berubah. Dia sudah berjanji tidak akan seperti itu lagi dan janjinya itu selalu tidak tepat. Bahkan terkadang aku merasa lelah selalu mengingatkan, melarang, dan mengaturnya.

Kadang aku berpikir kalau aku tak mau lagi mempedulikannya. Tapi ketika aku salat dan berdoa, pikiranku berubah drastis. Kalau aku tak mempedulikannya, apa guna aku berpacaran dengannya. Hanya buat dosa dan buang pulsa ya kan? Akhirnya niatku sekarang aku harus berusaha mengubah dia walaupu mungkin dia tak berubah sama sekali. Setidaknya diriku telah berjuang.

Dia hanya orang biasa, dia bilang kalau dia berasal dari keluarga yang sederhana. Aku pun juga dari keluarga yang sama, hanya saja karena bapakku waktu muda bekerja keras dan rajin menabung makanya aku bisa kuliah di sebuah Akademi Kebidanan. Aku terkadang iri melihat temanku punya pacar TNI atau Polisi. Rasanya aku susah ketemu yang seperti itu, tapi kenapa mereka mudah sekali. Namun, aku tanamkan dalam diriku bahwa rezeki seseorang akan ada dan roda pun bisa berputar. Aku ingin memperbaiki keturunanku, tapi kuserahkan saja semua kepada Allah, apapun jalannya nanti akan aku terima.