Cerita Cintaku
- U-Report
Tibalah bulan April, temanku sudah berkali-kali bertanya, “Kok enggak ketemuan sih?” Sampai akhirnya tepat tanggal 10 April, kami bertemu kembali. Aku dan teman SMA-ku, namanya Vivi dan Tio bersama temannya, Ardi. Kami pergi ke Taman Remaja. Pertemuan kami hanyalah sekadarnya, tidak ada percakapan basa basi ataupun candaan. Mungkin kami hanya menghabiskan waktu sekitar satu jam saja. Kawanku bilang aku dan dia bukan seperti orang pacaran, ya itu lantaran enggak enak sama dia makanya kami berjauhan.
Setelah kami bertemu, aku pergi ke sebuah toko buku menemani kawanku. Tio tiba-tiba telepon dan bilang, “Kita putus!”. Haah...? Aku terkejut. Apa salahku, aku tidak tahu. Tiba malamnya kami teleponan, ternyata saat itu dia benar-benar menjauh karena dia kesal dan marah. Dia bilang aku enggak mau dekat dengan dia, sedangkan kawanku dekati aku terus. Tak ada waktu sedikitpun untuk kami berdua padahal dia sudah cape jauh-jauh.
Aku juga sempat berpikir kenapa aku tidak berbicara apapun dan hanya berbicara biasa saja. Pokoknya malam itu dia berbicara panjang lebar. Aku jadi merasa bersalah. Dia bilang ke aku kalau dia ingin sendiri dulu selama satu bulan ini. Serius sekali ngomongnya sampai membuat aku baper dan meneteskan airmata.
Tapi ternyata dia tidak seperti itu. Dia tidak tega dan dia pun enggak sanggup karena kami berdua dari awal jadian sampai saat ini selalu teleponan, walaupun hanya satu detik saja, tapi setiap hari pasti harus mendengar suaranya. Aku tahu dia masih kesal, sampai saat ini pun aku tahu dalam hatinya kecewa. Tapi aku tak bermaksud cuek atau apalah, aku hanya tidak enak saja kalau harus berduaan dengan pacar. Aku juga bingung harus bagaimana, aku selalu saja salah di matanya.
Selain itu dia juga marah denganku karena aku membuang rokoknya, padahal aku cuma berniat baik. Bicara baik-baik sudah kami lakukan, tapi tetap saja dia tidak mau dengar. Tapi biar bagaimanapun aku merasa nyaman dengan dia. Aku bisa terbuka cerita apa saja.