Never Give Up
- U-Report
Dan pagi tadi aku bangun sebelum ayam berkokok. Mempersiapkan segala sesuatunya sampai lupa untuk sarapan. "Perusahaan kami membutuhkan pekerja keras, punya dedikasi tinggi serta pantang menyerah," ucap Pak Haryanto ST. Nama itu aku baca di kartu identitas yang talinya tergantung di leher. "Apakah Anda orangnya?" "Ya, Pak!" jawabku mantap.
Semangat meletup di dadaku. Siap kumuntahkan demi menghapus cap pengangguran yang selama dua tahun melekat. Pak Haryanto mengangkat sepasang alisnya. "Senang sekali saya mendengarnya. Itu jawaban yang saya tunggu. Namun saya harus bersabar sampai Anda benar-benar menandatangani surat kontraknya. Sebelumnya saya akan jelaskan tantangan apa yang harus Anda hadapi. Sebentar!"
Aku menahan napas, menunggu kelanjutan kalimat pria berdasi yang punya jabatan kepala personalia. Meja menjadi jarak antara kami. Di atasnya sebuah laptop dan setumpuk berkas. Ia mengambil satu map di antaranya. "Ini surat kontrak kerja," lanjutnya seraya membuka map. Ia menyodorkannya kepadaku. "Perusahaan kami adalah perusahaan multinasional. Produk yang kami pasarkan adalah barang-barang berkualitas ekspor dengan harga terjangkau. Kami ingin produk-produk tersebut tidak hanya terpajang di toko-toko besar. Kami ingin masyarakat luas mudah mendapatkannya. Kami percaya Anda sanggup memasarkannya di level pengecer. Saya sudah membaca lamaran Anda. Anda memiliki SIM C. Dan kami akan menyiapkan armadanya. Anda paham maksud saya?" Sesak napasku jika mengingat percakapanku tadi di ruang personalia. Aku terjebak oleh kebodohan sendiri.
Seharusnya aku teliti dan curiga kenapa ada persyaratan harus memiliki SIM C pada iklan lowongan kerja segala. Apa korelasinya antara posisi operator produksi dengan SIM? Jelas ini penipuan. Maka itu aku menolak untuk menandatangani surat kontrak. "Kamu boleh duduk di kursi ini," kata penjual rokok membuyarkan lamunanku.
Ia membawa dua buah kursi plastik. Satu ia duduki, satu ditawarkan padaku. Aku meletakan pantat di atas kursi tersebut. Duduk bersebelahan dengannya sambil memangku tas ransel. "Tampaknya kamu sedang mencari pekerjaan," tebaknya. Pandangannya menelanjangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tersenyum dikulum.