Never Give Up

Never Give Up
Sumber :
  • U-Report

Dengan penampilanku yang mengenakan kemeja putih lengan panjang yang bawahnya kumasukan ke dalam celana panjang warna hitam, sabuk melingkar di pinggang, dan kaki terbungkus sepatu pantofel, mudah baginya untuk menebaknya. "Di kota ini banyak perusahaan. Kamu akan mudah mendapatkan pekerjaan jika punya orang dalam dan kamu melamarnya menggunakan ijazah SMP. Mereka ingin membayar karyawan dengan gaji rendah. Jadi percuma kamu melamar menggunakan ijazah SMA atau diploma," ucap penjual rokok.

Aku mengangguk saja. Menukas kalimatnya hanya akan membuatnya banyak bicara. Aku malas membahasnya. Harapanku sedang hancur. Aku sedang mengalami titik nadir dalam mencari pekerjaan. Asa yang tersisa tinggal kepingan tak berarti. "Perusahaan di Indonesia itu payah! Mereka merekrut pekerja tapi enggan menjadikannya karyawan tetap. Jika sistem kontrak seharusnya mereka menggunakan jasa outsourcing, bukan dengan merekrut langsung. Dan pekerja inti semisal bagian produksi itu tidak boleh menggunakan sistem outsourcing sebab pekerja-pekerja itu hanya untuk pekerjaan tambahan misalnya officeboy atau cleaning service.”

Kupandangi penjual rokok. Aku nyaris tak percaya ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Sekarang gantian pandanganku yang menelanjanginya. Penampilannya tidak meyakinkan. Mukanya lebih lusuh dari kaos oblongnya yang warnanya tidak jelas, entah putih atau kuning. Cara memakai sarung pun tak rapi, asal-asalan. Kutebak pasti ia belum mandi. Ada kotoran di antara ujung mata dan tulang hidung. Wajahnya pun kusam, sepertinya belum tersentuh air sejak bangun tidur. Diri sendiri saja tak diperhatikan. Bagaimana mungkin ia bisa memperhatikan orang lain. Ia hanya sok tahu.

Namun, jika demikian penilaianku, aku harus berpikir ulang. Kata-katanya masuk akal. Jika ia membual, setidaknya ia punya wawasan dasar. Entahlah, aku sedang malas berpikir. "Kaget ya? Seorang penjual rokok berbicara seperti pengamat ekonomi." Ia menyeringai. Sorot matanya mencibir tampang bodohku. Ia seperti malaikat, bisa tahu apa yang ada di benakku. Atau mungkin ia iblis yang pandai menghasut pecundang sepertiku. Memprovokasiku untuk membenci ketidakberesan sistem ketenagakerjaan negeri ini itu percuma.

Anak usia sembilan belas tahun sepertiku belum bisa berpikir logis untuk menilai kebobrokan pengendali ekonomi. "Saya tidak paham maksud ucapan bapak. Saya hanya ingin bekerja. Dua tahun saya menganggur. Meskipun setiap hari saya mencari pekerjaan, orang-orang tetap menganggapku sampah. Mungkin mereka benar. Saya tak layak marah karenanya," kataku sambil menahan nyeri di sudut hati.