Never Give Up

Never Give Up
Sumber :
  • U-Report

Kadang aku bertanya. Kenapa aku kurang beruntung dibandingkan teman-teman sekolahku. Mereka bisa kuliah. Yang tidak kuliah bisa mendapatkan pekerjaan. Sedangkan aku? Aku tidak iri dengan mereka. Aku hanya ingin bisa membantu meringankan beban ibu. Aku kasihan padanya. Sejak ayah tiada, ia menjadi petarung tunggal. Membiayaiku dan dua adikku dengan berjualan jamu. Pagi setelah kami berangkat sekolah, ia kayuh sepeda berkeliling kampung, menjajakan dagangannya sampai sore. "Jika tidak krismon, mungkin saya sudah menjadi manager di perusahaan besar di Jakarta," ucap penjual rokok seperti bicara sendiri.

Pandangannya menerawang jauh ke langit. Ia gantung kalimatnya di sana. Seolah ada layar lebar dan sorot matanya adalah proyektor. Aku terkejut mendengar pengakuannya. Sulit dipercaya lelaki kumuh di sebelahku dulunya hampir menjadi manager. "Apa itu krismon?" Tanyaku. "Krismon itu krisis moneter. Sebelum orde baru tumbang, negara ini mengalaminya. Inflasi terbang tinggi sementara nilai kurs rupiah terjun bebas. Banyak perusahaan gulung tikar. Dan kau tahu artinya?" "Tidak." "Saya kehilangan pekerjaan tanpa pesangon.

Waktu itu posisi saya supervisor. Untuk bertahan hidup saya terpaksa melakukan apa saja. Termasuk menjadi pengecer togel. Saya pernah dipenjara lima bulan karenanya." Ia terkekeh. "Terus?" Aku mulai tertarik kisahnya. "Istri saya pulang ke orang tua. Disamping malu, juga tak tahan hidup kekurangan. Akhirnya saya pulang kampung. Di kampung saya membuka warung nasi. Mungkin karena kurang pengalaman, akhirnya modal dari pinjam rentenir habis. Setelah itu usaha apa saja saya coba. Sama saja. Ujung-ujungnya tetap kehabisan modal. Utang numpuk di mana-mana.

Sejak itu saya menjadi orang penting. Banyak dicari orang, terutama rentenir. Hahaha..!" Ia terbahak untuk waktu yang cukup lama. "Pak Yatin!" Terdengar suara merdu menghentikan tawa penjual rokok. Seorang gadis berwajah manis menghampiri kami dengan membawa kantung plastik ukuran besar.

Ia masih mengenakan seragam putih abu-abu, tapi kakinya beralaskan sandal jepit. Ia menyerahkan bawaannya kepada penjual rokok yang baru kutahu bernama Pak Yatin. "Ini titipan dari ibu. Nasinya dua puluh bungkus. Gorengannya lima puluh buah." Pak Yatin menerimanya, "Makasih, Nduk!" "Sama-sama," balas gadis itu.