Mengidentifikasi Kaum Radikal

Ilustrasi Senjata.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dyah Ayu Pitaloka

VIVA.co.id – Isu seputar radikal bukanlah isu yang aktual. Isu tentang keberadaan radikalisme memang sudah usang. Sebab, kaum radikal memang ada sejak masa-masa awal penyebaran agama Islam. Hal ini terbukti dengan adanya kaum munafik pasca wafatnya Rasulullah. Kaum munafik memang menampakkan keislamannya secara lisan di hadapan Rasulullah. Namun, tidak dengan batin mereka.

Kaum radikal muncul setalah kematian Rasulullah yakni dengan adanya fitnah-fitnah kaum murtad dan juga kelompok Musailamah al-Kahzab yang diperangi oleh Abu Bakar as-Shiddiq sebab mengaku sebagai nabi. Munculnya radikalisme saat itu memang bertujuan untuk memengaruhi orang-orang yang memang tidak begitu paham tentang agama. Kaum radikal terbesar dulu yaitu kaum Khawarij yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib dan mengkafirkan Ali. Aliran Khawarij ini juga mengkafirkan kaum muslim yang melakukan dosa besar dan aliran ini pecah menjadi 20 aliran.

Abad ke-12 Hijriah, muncul radikalisme Wahabi yang berhasil mendirikan kerajaan Saudi Arabia. Kaum ini mengkafirkan muslimin yang istighasah, bertawasul dan juga mengharamkan ziarah kubur, dan sangat radikal menyikapi persoalan yang dianggap bid’ah. Aksi gerakan radikalisme terus berlangsung hingga masuk ke Indonesia. Banyak kelompok yang dianggap dan dituding sebagai kaum radikalisme bermunculan. Hal ini ditandai dengan banyaknya aksi-aksi anarkis yang mengatasanamakan agama.

Radikalisme merupakan suatu fenomena yang terlahir dari kegelisahan yang berlebihan yang dialami oleh seseorang atau kelompok. Radikalisme juga merupakan perilaku keagamaan yang menyalahi syariat. Dari sebab itu, setidaknya kita mengetahui karakteristik dari kaum radikal.

Pertama, radikalisme juga menganut fanatik yang berlebihan sehingga tidak mengakui tentang pendapat orang lain. Dan juga membolehkan dirinya untuk berijtihad  dan tidak membolehkan orang lain untuk beijtihad selama ijtihadnya berbeda dengan ijtihad kaum radikal. Kedua, dalam menyampaikan dakwah biasanya kaum radikal terlalu keras sehingga orang lain tidak menyukainya. Dalam berintraksi kaum radikal ini juga terlalu kasar.

Ketiga, biasanya kaum radikal selalu mempunyai sifat suudzan (prasangka buruk) terhadap orang lain sampai-sampai tidak melihat kebaikan orang lain dan memperbesar kesalahan. Dan kaum radikal juga sangat berani menuduh dan menghakimi orang lain. Keempat, kaum radikal biasanya juga menjauhkan anggota jemaah mereka dari hal-hal yang mereka anggap menyimpang dan juga mereka biasanya membentuk kelompok yang mereka anggap eksklusif dengan menerapkan pandangan prinsip yang mereka anggap sebagai prinsip dalam beragama.

Dari beberapa ciri-ciri kaum radikal dan mengetahuinya, setidaknya kita dapat mawas diri untuk tidak terjerumus pada kelompok yang bisa kita anggap sebagai kelompok yang mulai nge-tren di Indonesia dan juga yang selalu melakukan hal penyimpangan. (Tulisan ini dikirim oleh Evie Liviana)