Pentingkah Mengantar Anak ke Sekolah?
- U-Report
Tentunya di setiap daerah berbeda pandangan dan berbeda hukumnya. Misalnya pamali bagi seseorang yang istrinya sedang hamil untuk pergi berburu ke hutan, mereka percaya jika bakal ada akibatnya seperti kelahiran anaknya akan cacat atau menyerupai hewan yang ia bunuh atau sanksi gaib serta sanksi adat. Terlepas dari itu, pamali mengandung sejuta pesan moral yang patut kita renungkan bersama.
Di sebuah desa di Indonesia Timur, masyarakatnya sangat mengedepankan yang namanya pamali. Sehingga ini saat yang tepat untuk penulis mengeksplorasinya. Mereka percaya jika anak pertama masuk sekolah harus ada yang temani, bila tidak pamali. Hukumanya apa? Hukumannya adalah anaknya akan menjadi bodoh.
Secara ilmiah ini sulit dipercaya, namun pamali ini akan mulai dibuktikan oleh Pak Anies secara perlahan-lahan, walaupun tak sampai bodoh. Tetapi kandungan atau pesan dari pamali tadi memberikan isyarat jauh sebelum Pak Anies memberikan fatwa Menteri sudah ada fatwa pamali. Di desa tersebut, jika Anda sedang mengikuti ujian nasional maka di hari pertama Anda tidak bisa keluar dari rumah begitu saja. Orang yang tertua di antara keluarga Anda, atau orang yang paling jago mantranya akan menyuruh Anda berdiri di pintu utama rumah, lalu membacakan doa-doa sebelum Anda melangkah untuk mengerjakan soal-soal ujian tersebut.
Hal sama juga terjadi ketika Anda lulus ujian dan akan merantau. Di Makassar misalnya, Anda tidak akan dikeluarkan begitu saja dari rumah, namun sederet doa dan mantra akan menyertai langkah Anda. Sehingga kebijakan Pak Anies melaui Surat Edaran No 4 Tahun 2016 Tentang Hari Pertama Masuk Sekolah yang isinya meminta agar para gubernur dan walikota memberikan dispensasi bagi para PNS untuk mendampingi anak-anak mereka (pertama bersekolah) ke sekolah mengingatkan penulis dengan edaran pamali yang entah dari mana asal muasalnya tadi.
Di berbagai media, Pak Anies sudah memberikan penjelasan mengapa perlu mengantarkan anak pergi sekolah. Yaitu untuk menumbuhkan potensi anak. Selain itu, antara guru dengan orangtua bisa berinteraksi. Dampaknya diyakini akan positif kepada anak. Jika guru menemukan potensi pada anak, maka guru akan mengkomunikasikan kepada orang tua murid. Di sini yang ditekankan oleh Pak Anies adalah peran serta orang tua. Jika ditemukan adanya masalah, guru dapat menceritakan pada orangtua. Tentunya dengan komunikasi seperti itu masalah anak dapat ditangani dengan cepat. Saya jadi teringat dengan sebuah kisah: