Tanjung Puting, Misteri di Ujung Kalimantan Tengah

Tanjung Puting
Sumber :
  • U-Report

Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan kapal klotok lain yang semuanya berisi turis asing. Mereka kebanyakan melakukan perjalanan 3 hari 2 malam. Di kapal klotok sudah disiapkan kasur dan kelambu untuk menginap. Karena waktu terbatas, saya memutuskan untuk pulang malam saja. Perjalanan melewati Tanjung Harapan, untuk dicek perizinan tanda masuk tamu, kemudian melewati Pondok Tanggui, dan akhirnya sampai juga ke Camp Leakey.

Kita turun ditempat feeding orangutan yang terbesar. Perjalanan dari Dermaga ke Feeding Point di Camp Leakey sekitar 45 menit berjalan kaki. Di sini, orangutan banyak terlihat bermain di pohon-pohon sehingga setiap kelompok tamu harus ditemani ranger atau guide. Di perjalanan menuju Feeding Point, kami ditemani Princess yang sedang menggendong anaknya. Princess ini termasuk orangutan belum liar karena dibawa ke Tanjung Puting sebagai orangutan sitaan.

Di Feeding Point Camp Leakey, orangutan yang berkumpul lebih banyak dibanding Pondok Tanggui. Bergantian mereka duduk di meja yang penuh oleh pisang, kemudian kabur membawa beberapa buah. Sungguh pengalaman tersendiri menyaksikan mereka berinteraksi satu sama lain. Ketika balik dari Feeding Point, beruntung sekali kami bertemu dengan Tom, sang Raja Tanjung Puting. Antara ngeri dan senang bercampur aduk. Dia besaaar sekali, sehingga kami harus balik arah jalan agar tidak berpas-pasan langsung dengan Tom. Setelah Tom duduk, barulah kami berani untuk memotretnya. Di Camp Leakey, kami mampir di Visitor Center yang kondisinya lebih baik daripada yang ada di Tanjung Harapan.

Birute Galdikas berasal dari Jerman, berkebangsaan Kanada. Tahun 1971, Galdikas (25) dan suaminya tiba di Tanjung Puting untuk meneliti orangutan di habitat aslinya. Tahun 1981, setelah bercerai dengan suaminya, Galdikas menikah dengan orang Dayak asli bernama Pak Bohap. Dengan Pak Bohap beliau dikaruniai dua orang anak bernama Frederick dan Jane. Galdikas atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bu Birute oleh orang-orang setempat, benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk orangutan.

Beberapa penghargaan diberikan kepadanya dari pemerintah Indonesia maupun lembaga dunia. Saat ini, Bu Birute tidak menetap lama di Tj Puting. Dia bolak balik antara Kanada, Amerika, dan Indonesia. Bu Birute yang sudah menjadi WNI ini menjadi ˜kesayangan” orangutan di sini. Guide kami bercerita, kalau setiap kali Bu Birute datang, orangutan akan setia menunggu di pinggir sungai. Bahkan beberapa dibawa ikut naik boat untuk menuju lodge-nya.