Tanjung Puting, Misteri di Ujung Kalimantan Tengah
- U-Report
Tom, orangutan yang paling besar akan selalu bikin sarang dekat dengan kamar Bu Birute ketika beliau ada di sana. Di Camp Leakey ada guest house milik Bu Birute, yang sekarang terlihat kurang terawat. Di sini juga ada penjaga yang berasal dari Suku Dayak. Karena menurut cerita guide, banyak penjaga yang hilang di hutan ini. Setelah puas berkeliling, berfoto, dan menikmati keaslian hutan nasional ini, maka waktunya pulang karena sudah jam 16.30. Biasanya setelah jam 16.00 perahu tidak diperbolehkan pulang ke Teluk Kumai, karena bahaya Sungai Sekonyer yang akan menyempit di malam hari.
Nakhoda pun menyarankan kami untuk menginap, tapi saya berkeras untuk pulang. Tidak terbayangkan menginap di hutan, apalagi saya perempuan sendirian. Ternyata benar juga, perjalanan pulang sungguh ekstrem. Kami membelah Sungai Sekonyer di malam yang gelap tanpa ada penerangan sama sekali. Hanya lampu senter yang menerangi kami mencari jalan menyusur sungai. Hutan gelap penuh suara binatang malam. Banyak pohon dan rawa yang menutup jalan kapal.
Kapal kami sempat menabrak pinggiran pohon karena salah jalan. Aduh, kebayang kalau kapalnya sampai mogok atau roda bawahnya lepas. Siapa yang mau memperbaiki malam-malam gelap begini? Sang nakhoda berjuang melawan gelap ditemani kernet dan guide yang sama-sama mencari jalan. Sungai Sekonyer terasa sangat panjang dan berliku. Tapi senang juga menikmati perjalanan malam ini. Kunang-kunang bertebaran dimana-mana, bintang-bintang pun terasa bertaburan lepas. Ada burung hantu yang menyeramkan. Ada mata merah buaya.
Beneran! Ada buaya di pinggiran sungai. Aduh, saya jadi membayangkan yang macam-macam. Kalau kapal ini sampai terbalik, terus kita mau lari ke mana ya? Apalagi mendengar cerita dari pemandu kalau banyak petugas hutan yang hilang di sungai ini kebanyakan karena di makan buaya. Juga ada turis asing yang nekat berenang, dan akhirnya dimakan buaya juga.
Angin dingin mulai terasa, rasa kantuk mulai menyerang, apalagi ada bantal. Akhirnya sempat tertidur juga. Lumayan menghilangkan rasa cemas tadi. Saat terbangun ternyata masih di atas sungai juga. Akhirnya jam 22.30 sampai juga di Teluk Kumai. Alhamdulilah, senangnya melihat dermaga yang terang. Perjalanan yang tak akan terlupakan. Sampai jumpa lagi,Tom. Aku pasti kembali menjengukmu! (Tulisan ini dikirim oleh nuk03021998, Pangkalan Bun)