Tanjung Puting, Misteri di Ujung Kalimantan Tengah
- U-Report
Sambil menyeruput kopi panas di pagi dingin, saya memandangi pinggiran Teluk Kumai yang masih ramai. Karena semalam tidur di bus dengan pulas, maka pagi ini saya tak merasa mengantuk. Akhirnya, ketika subuh, saya pun menuju masjid yang lumayan besar dan bersih. Selain salat, saya juga menumpang mandi di masjid tersebut. Whuaa, airnya merah kekuningan. Karena memang airnya berasal dari sungai di sana.
Setelah pagi datang, saya mulai mencari kapal klotok yang akan disewa menuju Tanjung puting. Pak Ali, yang memberi kami tumpangan tempat, ternyata punya kenalan. Setelah tawar menawar, disepakati jam 09.00 kami akan memulai perjalanan. Sambil menunggu kapal disiapkan, kami pun mencari makan dan penginapan untuk nanti. Akhirnya kami dapat penginapan di tepi Teluk Kumai. Losmen Permata Hijau, yang bersih dan murah juga.
Akhirnya, tepat jam jam 10.00 berangkat juga kapal klotok kami menuju Tanjung Puting. Kapal panjang ini biasa disebut kapal klotok dengan fasilitas lengkap. Seperti kamar mandi dengan toilet duduk dan shower, 2 dek di depan dan di belakang untuk bersantai menikmati pemandangan, meja dan kursi makan, dan pastinya ruangan tengah yang diberi alas karpet dan 2 buah matras untuk sekadar bersantai dan tidur-tiduran. Sayangnya kita hanya berdua, padahal dinaiki 6 sampai 8 penumpang pun harga masih sama.
Dari Teluk Kumai, perlahan-lahan kapal berjalan menuju Sungai Sekonyer. Suasana sepi dan hutan yang asli mulai terasa. Taman Nasional Tanjung Puting merupakan lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Terdapat tiga buah lokasi untuk rehabilitasi orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey. Orangutan Kalimantan mempunyai bulu kemerah-merahan gelap dan tidak memiliki ekor. Sejalan dengan pertumbuhan usianya, jantan dewasa mengembangkan pipinya hingga membentuk bantalan. Semakin tua, bantalan pipinya semakin besar sehingga wajahnya terkesan seram.
Taman Nasional Tanjung Puting ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 dan merupakan Sister Park dengan negara Malaysia. Perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer ini sungguh mengasyikkan, karena di pinggiran sungai banyak sekali pemandangan. Pohon-pohon yang langka, gerombolan bekantan, monyet, hingga burung enggang. Ditambah benar-benar tidak ada sinyal, jadi mau apa lagi selain menjelajahi alam?