Harus Berjalan 10 Kilometer Hanya untuk Makan
Setiap pagi pukul 08.00, Mbah Marmo dari desa tempat tinggalnya Baritocabak, berjalan kaki tanpa alas menuju rumah Mijah di Desa Sanitamansari. Jaraknya sejauh kurang lebih 10 km. Perjalanan itu ditempuhnya selama dua sampai tiga jam. Sampai di rumah Mijah, Mbah Marmo makan hingga kenyang. Jika masih merasa kuat, sorenya pukul 15.00 dia pulang. Bila masih letih, ia akan bermalam di rumah Mijah.
Esoknya, setelah makan pagi, Mbah Marmo pulang ke rumahnya. Esoknya lagi, berjalan ke rumah Mijah untuk dapat makan. Begitu hidup Mbah Marmo hampir 30 tahun. Hanya untuk makan, harus jalan kaki ke rumah Mijah sejauh itu. Mengapa tak tinggal di rumah Mijah saja? Kata Mbah Marmo, dia enggan merepotkan Mijah bersama anak-cucunya. Lagi pula, rumahnya sendiri menjadi tak terurus.
Beberapa pemotor saat bertemu Mbah Marmo sering menawari tumpangan. Tapi acap ditolak, dengan alasan ia sudah biasa jalan kaki. Saat ditanya, mengapa tak naik angkutan umum saja? Sambil tertawa Mbah Marmo ganti bertanya, “Dari mana saya dapat duit?”
Sampai kapan Mbah Marmo mengakhiri lawalatanya? Tiap hari berjalan menempuh jarak sejauh itu hanya untuk mengganjal perut. Jangankan orang lain, sedang Mbah Marmo sendiri tak bisa menjawabnya. Itu misteri Tuhan dalam menentukan jalan hidup seorang manusia. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)