Perjuangan Kakak Beradik di Desa Setui Aceh

Rahmat saat menerima bantuan sepeda baru.
Sumber :

Ternyata setelah diketahui, keluarga mereka bukanlah penduduk asli setempat. Merantau demi kehidupan yang lebih baik setelah kehilangan ayah dan kepala keluarga tidaklah mudah. Sepeninggal sang ayah, bersama ibu mereka dari Sigli menuju Punge Ujong yang jaraknya berkilo meter jauhnya. Saudara perempuan mereka dititipkan di salah satu famili. Sang ibu memboyong tiga anak laki-lakinya ikut serta.

Di tengah kesulitan mencari tempat tinggal, seseorang pemilik rumah menawari mereka tinggal di sana. Tak peduli kondisinya seperti apa, yang penting ada tempat bagi keluarga mereka untuk bernaung. Memberikan kesempatan tinggal adalah hal yang sangat mereka syukuri.

Menyambung asa di tempat baru, ibu beralih peran mencari nafkah. Ia rela menjadi buruh cuci di sebuah kedai nasi. Setiap hari mulai mencuci dari jam 6 sore sampai 1 dini hari baginya bukanlah apa-apa. Yang penting anak-anaknya tidak putus sekolah dan tetap makan walau seadanya.

Namun, kenyataan sungguh menyayat. Upah cuci Rp15.000 setiap harinya tak mampu mencukupi makan ketiga anaknya.Terkadang mereka makan, dan tetap sabar kalau tak makan hari itu. Berada di sekitar rawa, semak-semak tebal, dan rerumputan tinggi, mereka nikmati setiap harinya.

Lingkungan sekitar masih nampak beberapa tetangga dekat rumah. Namun, status pendatang rupanya seakan jadi magnet rasa segan bergaul dengan mereka. Seperti kebutuhan listrik untuk penerangan yang harus meminta ke tetangga, tak urung mereka lakukan karena tak sanggup membayarnya. Jadilah gulita teman setia yang menaungi mereka ketika hari mulai senja.

Kebutuhan primer lain, air bersih pun tak kunjung mereka peroleh dengan layak. Bersusah payah mengumpulkan air PAM dengan menampungnya ember demi ember. Diangkut dari berjalan kaki menahan berat kemudian dipakai seirit mungkin untuk semua kebutuhan MCK tiap harinya.

Terenyuh menyaksikan realita hidup keseharian mereka, Bang Zul merasa terpanggil. Mulai membantu mengantar kedua bocah ke sekolahnya masing-masing. Inisiatif berlanjut ke diskusi bersama pihak Rumah Yatim Aceh. Silaturahim pun dijalankan untuk lebih mendalami kondisi keluarga Rahmat dan adiknya, Aziz.