Melihat Lebih Dekat Wajah Ujung Republik Ini

Saya dan anak-anak di Papua.
Sumber :

Akhirnya, saya pilih untuk turun tangan langsung sebagi guru di pelosok negeri ini. Saya pilih untuk hadir di tengah-tengah mereka. Saya pilih untuk ikut belajar di tengah banyaknya keterbatasan bersama mereka. Saya pilih untuk hadir dan menyaksikan semuanya secara dekat bahkan berbaur di dalamnya.

Tentu itu bukan jalan yang mudah. Jalan yang saya pilih itu adalah jalan yang sulit. Dengan demikian, berarti saya memutuskan untuk hidup jauh dari keluarga, jauh dari kota dan segala kemudahan akses di dalamnya. Tapi saya yakin jalan sulit, jalan mendaki yang saya tempuh itu memiliki puncak yang indah pada akhirnya.

Tepat pada 20 Agustus 2015, perjalanan mendaki itu dimulai. Saya tak tahu persis permasalahan apa yang akan saya temui di tempat mengabdi itu. Terlepas dari apapun persoalannya, setahun bukanlah waktu yang cukup panjang untuk dapat menyelesaikan persoalan pendidikan di sana secara sempurna. Bahkan mungkin setengahnya pun tidak. Tapi tidak apa. Adalah suatu kehormatan bagi saya boleh ikut ambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan negeri ini secara khusus di bidang pendidikan.

Sejak hari itu, saya percaya akan ada banyak cerita-cerita baru yang akan saya lalui. Cerita yang mungkin belasan atau puluhan tahun lagi akan dengan bangga saya ceritakan kepada keluarga saya. Atau mungkin jauh setelah hari itu, akan ada banyak kabar yang saya dengar dari siswa/i saya yang saya temui di tempat yang penuh keterbatasan itu. “Pak, saya sudah lulus jadi dokter” atau mungkin “Pak, saya diterima beasiswa di Amerika”. (Tulisan ini dikirim oleh Daniel Leonard Sinaga)