Mahasiswa Jepang yang Berbaur dengan Anak Muda Indonesia

Atsushi Matsui bersama 2030 Youth Force Indonesia.
Sumber :

Pria muda Jepang yang hobi jalan-jalan ini juga sempat berkunjung di beberapa tempat wisata di Indonesia. Baginya, belajar bahasa Indoensia tidak hanya tentang teori saja, namun juga harus memahami budaya, sosial, dan masyarakatnya.

“Dalam dua tahun ini, saya belajar banyak hal tentang Indonesia. Bahasa, sejarah, agama, budaya, dan lain-lain. Sebelum jadi mahasiswa, saya berpikir tidak akan belajar di luar negeri, hanya cukup belajar di Jepang. Tapi setelah belajar, saya mau melihat Indonesia dengan mata saya. Dan saya tidak mau lulus sebelum bisa berbicara bahasa Indonesia, “ ujarnya.

Atsushi juga menggambarkan perbedaan antara anak muda di Indonesia dan Jepang. Kita tahu, dua negara ini mempunyai kekuatan emosional yang kuat secara faktor historis. Dan tak bisa dipungkiri, bahwa tidak salah ketika kedua pemuda negara ini saling bekerjasama untuk masa depan dunia yang lebih baik untuk semua kalangan.

“Saya berpikir, anak muda di Jepang hanya menikmati hari itu saja. Mereka punya tujuan yang sangat pendek. Mereka berpikir dengan cara tua bukan cara sekarang. Kalau generasi orang tua boleh, tapi generasi sekarang mungkin sulit. Pemuda di Jepang juga menikmati kehidupan mereka. Jadi, mereka tidak khawatir siapa yang akan menjadi presiden masa depan Jepang. Menurut saya, orang yang punya jiwa kepemimpinan di Jepang sangat kurang. Saya sangat khawatir tentang hal itu,“ ujarnya.

Mengenai kekhawatiran itu, apakah bisa dijawab oleh pemerintah terkait yang bisa memfasilitasi anak muda untuk turut andil dalam merencanakan masa depan bangsanya, itu persoalan lain. Justru hal yang dihadapi anak muda Indonesia saat ini adalah terus bermimpi dan menciptakan inovasi-inovasi kreatif di berbagai bidang untuk masa depan.

Membangun kemitraan dengan berbagai pemuda dari berbagai negara adalah kunci untuk menjaga kestabilan komunikasi pemuda dunia. Sehingga nantinya mampu secara bersama dan inklusif membangun dunia yang lebih baik. (Tulisan ini dikirim oleh Luky Antoryo)