Strategi Promosi PTS di Tengah Pandemi COVID-19

Digital Marketing Perguruan Tinggi Swasta
Sumber :
  • vstory

VIVA – Pandemi telah menjadi pelajaran sangat berarti bagi semua kita, menjadi pendorong perubahan terhadap segala bentuk aktivitas dan pola interaksi kita, tak terkecuali perguruan tinggi dalam menjalankan aktivitas pembelajaran maupun aktivitas penerimaan mahasiswa baru.

Bagi perguruan tinggi negeri, dampak pandemi tidak begitu terasa karena program penerimaan mahasiswa baru sudah terprogram melalui SNMPTN dan SBMPTN, selebihnya masing-masing PTN menyelenggarakan seleksi mandiri sesuai kebutuhan.

Namun, bagi perguruan tinggi swasta (PTS), dampak pandemi akan sangat terasa dan menjadi pukulan cukup telak seiring menurunnya daya beli masyarakat dan tingkat pendapatan.

Pada tahun 2020 saat awal pandemi di Indonesia, lulusan SMA/MA/SMK tidak sedikit yang memilih untuk Gap Year dengan alasan menunggu kondisi pandemi selesai, ada pula yang karena alasan menunggu SBMPTN tahun berikutnya.

Nah, di tahun 2021 ini, sebagai tahun kedua pandemi, siswa tidak punya pilihan lain selain harus tetap daftar kuliah karena mereka menyadari bahwa pandemi tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Mau tidak mau, siswa harus cari kampus untuk kuliah meskipun mereka tahu pembelajaran masih dilaksanakan secara daring. Terbukti, ada peningkatan jumlah pendaftar ke PTN melalui jalur SBMPTN. Pada tahun 2020 (saat awal pandemi), pendaftar SBMPTN sejumlah 702.927 orang, sementara tahun 2021 mencapai 777.858.

Nah, bagaimana dengan kampus swasta? Banyak yang gagap tentunya, dan tak sedikit yang mengalami kendala dalam proses transformasi pemasaran konservatif ke pemasaran digital.

Kendalanya sistem belum siap, SDM belum siap, atau infrastruktur belum yang siap. Lantas, bagaimana supaya program penerimaan mahasiswa baru tetap optimal dan menarik meskipun secara online dan tidak pernah tatap muka dengan siswa?

Pertama, maksimalkan potensi

Tim admisi harus mengetahui kelebihan dan kekurangan serta potensi yang dimiliki kampus melalui analisa SWOT. Jika sudah menemukan potensi dan nilai lebih dari kampus, jadikan itu sebagai decisive differences dari kampus swasta lain.

Jangan terpancing dengan metode atau cara kampus lain berpromosi. Kalau misal kampus lain promosi dengan mengandalkan Akreditasi A, maka jika kampus Anda akreditasi masih B atau C maka jangan turut bermain di issue akreditasi, karena kampus Anda akan ‘tenggelam’; sebaiknya bermainlah di value yang lain. Misal, memainkan isu jumlah alumni yang bekerja, jumlah kerjasama, jumlah alumni yang sukses jadi pengusaha, atau value lain yang menarik.

Trust yourself, percaya dengan potensi internal kampus menjadi kunci keberhasilan promosi. Ekspos dan angkat semua value untuk dijadikan sebagai bahan promosi, baik yang bersifat tangible maupun intangible.

Hal tersebut dapat memperkuat positive image kampus dan secara perlahan akan menjadi sebuah identitas yang dikenal oleh masyarakat. Tetapkan value apa yang akan diangkat sebagai main campaign, dan tetapkan juga additional value sebagai penguat promosi. Value-value ini harus selalu dan sesering mungkin dimunculkan dalam setiap media promosi.

Di samping itu, jangan lupa untuk membuat counter issue terhadap negative opinion masyarakat. Misal, jika kampus anda dipersepsikan sebagai kampus mahal, maka buat kampanye positif dan massif bahwa biaya kuliah di kampus anda terjangkau. Ingat, jangan pernah menggunakan kata murah, karena murah identik dengan sesuatu yang low quality. Murah juga lebih tepat digunakan untuk menyebut harga sebuah barang.

Kedua, optimalkan digital marketing

Cara ini yang saat ini harus dilakukan di tengah musim pandemi. Tidak ada kunjungan ke sekolah, tidak ketemu langsung dengan siswa untuk sosialisasi, tidak dapat ketemu langsung dengan guru BK; ini sebuah tantangan.

Sebelum melaksanakan program digital marketing, lakukan survey mendalam dulu untuk mengetahui media sosial apa saja yang paling banyak dan paling sering digunakan (Most-used) oleh target pasar. Berdasarkan data dari Globalwebindex.com (Januari 2021), media sosial yang paling banyak digunakan oleh usia 16 – 64 tahun adalah Youtube (93,8%), kemudian WhatsApp (87,7%), lalu Instagram (86,6%, disusul Facebook (85,5%).

Sehingga, media yang digunakan untuk promosi harus merujuk pada 4 media sosial tersebut jika ingin tepat sasaran, efektif, dan targeted. Bagaimana dengan penggunaan Tiktok?

Boleh juga digunakan sebagai media interaktir untuk brand awareness dan menciptakan interested point serta untuk memperkuat konten promosi yang ada, karena meskipun TikTok digunakan hanya oleh 38,7% orang namun total time penggunaan media TikTok menempati urutan 4 besar (di bawah Instagram). Sehingga, cukup efektif dan worth it untuk digunakan.

Salah satu kunci dari kesuksesan digital marketing dan brand awareness ini adalah konsistensi. Harus ditetapkan berapa kali publish konten di IG dalam sehari, berapa kali upload video di Youtube dalam sepekan, dll.

Informasi yang disajikan juga harus variatif dan menarik, tidak melulu konten promosi, harus diselingi juga dengan konten softselling atau konten-konten ringan supaya pemirsa tidak bosan dan jenuh.

Follower dan subscriber masih menjadi tolok ukur dari apakah konten media sosial kita memiliki daya tarik atau tidak. Sehingga, jangan ragu untuk juga mengejar target perolehan follower dan subscriber secara berkala melalui konten yang menarik, atau melalui program give away.

Ketiga, perkuat seragan Ads

Belum lengkap rasanya jika promosi yang dilakukan tidak di ‘bombardir’ dengan serangan IG Ads atau Google Ads. Hal ini untuk menyasar pasar yang belum dapat dijangkau, menyasar target pasar yang sudah memiliki ketertarikan dengan kampus anda, atau yang pernah mengunjungi website kita. Konsep Ads ini bukan barang baru lagi, bahkan sejak sebelum pandemi sudah banyak digital marketer dan tim admisi kampus yang menerapkan strategi ini.

Karena Ads ini berbiaya, maka pastikan sesuaikan dengan budget yang ada, jangan terlalu over. Rencanakan secara matang dan efektif supaya program promosi dapat terlaksana secara terintegrasi dan saling menguatkan. Lebih baik rancang Ads dengan anggaran kecil namun rutin daripada hanya sekali atau dua kali Ads dengan anggaran besar.

Keempat, perkuat data mining

Dalam proses promosi secara digital, data memegang peranan cukup penting. Tentunya data target yang prospektif, yakni siswa kelas XII atau lulusan 3 tahun sebelumnya. Dari mana data bisa didapatkan?

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan data siswa, diantaranya melalui Expo Virtual, Mengadakan Pelatihan untuk siswa, Sosialisasi PMB ke siswa, event lomba, Webinar, dll. Data yang telah diperoleh akan menjadi amunisi segar untuk selanjutnya di follow up dengan informasi yang persuasif.

Walau data ini penting, namun jangan berhenti di sini, karena data ini memiliki batas usia yg terbatas. Dari total data yang kita miliki seiring waktu akan ada nama diantara data tersebut yang diterima SNMPTN atau SBMPTN, dll sehingga jumlah data yang prospektif akan berkurang.

Kelima, ciptakan event kreatif

Nah, yang terakhir ini yang akan menjadi daya ungkit dalam mendorong jumlah pendaftaran. Event yang dilaksanakan harus dirancang dengan apik supaya dapat menghadirkan pendaftar atau setidaknya peminat.

Misalnya: bimbingan sukses UTBK, TryOut UTBK Online, Bincang Karier dan Masa Depan, atau tema lain yang sedang tren dan memang dibutuhkan oleh siswa kelas XII. Hindari melaksanakan event yang berbiaya besar namun tidak mendatangkan pemirsa, hal ini tentu useless dan wasting time. (Ahmad S. Shofa, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Manajemen Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto)

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.