Logo DW

Perang-perang Yang Ada di Dunia Setelah Jatuhnya Tembok Berlin

Sumber :
  • dw

Bagaimana struktur konflik di dunia berubah setelah jatuhnya Tembok Berlin?

Tidak bisa dibantah bahwa abad ke-20 memang diwarnai dengan banyak perang. Diperkirakan dua perang dunia memakan korban hingga 80 juta jiwa. Lalu era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Rusia, dua negara yang memperlombakan kemutakhiran senjata-senjatanya pada waktu itu. Dua raksasa ini mempertunjukkan kekuatannya tidak hanya di tanah Eropa, melainkan juga di bagian-bagian lain di dunia. Di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, para negara terkuat di dunia mendanai perang proksi.

Akhirnya pada tahun 1989, revolusi yang damai berhasil meruntuhkan rezim Tirai Besi. Perang dingin pun dinyatakan berakhir. "Kita berharap, setelah perang dingin akan datang era perdamaian", ujar Sarah Brockmeier, ahli pengamanan perdamaian untuk PBB di Global Public Policy Institute, sebuah lembaga think tank di Berlin.

Baca juga: Berapa Biaya Penyatuan Kembali Jerman Barat dan Timur?

Apakah sekarang ada lebih sedikit perang dari zaman dahulu?

Harapan ini terpatahkan. Masih banyak konflik yang berlangsung di seluruh dunia. Sejak pertengahan tahun 2000-an, jumlah konflik di dunia terus bertambah. Brockmeier: "Selalu ada konflik yang terjadi, dan ada lebih banyak kekerasan - terutama sejak dimulainya perang di Suriah, lebih banyak lagi yang harus kehilangan nyawa."

Hal ini disebabkan oleh konflik domestik pada tahun 1990-an, di mana tak seorang pun mengira akan terjadi setelah jatuhnya Tembok Berlin, ujar Brockmeier. Seperti perang Yugoslavia, di Sierra Leone, atau di Republik Demokratik Kongo. Dengan perang di Mali yang dimulai pada 2012 atau perang berkelanjutan Suriah yang dimulai pada 2011, tren ini tampaknya tetap ada.