Logo BBC

Kisah Berlian Banjarmasin di Belanda, Pusaka Jarahan Perang

Sultan Adam, salah satu pemimpin Kesultanan Banjar. - LEIDEN UNIVERSITY LIBRARIES KITLV 36A143
Sultan Adam, salah satu pemimpin Kesultanan Banjar. - LEIDEN UNIVERSITY LIBRARIES KITLV 36A143
Sumber :
  • bbc

Sebuah berlian dari era Kesultanan Banjar yang kini dipajang di sebuah museum di Amsterdam, Belanda - merupakan saksi "sejarah gelap, kekerasan pada zaman kolonial," menurut sejarawan dan kurator.

Berlian 80 karat, "jarahan perang" hampir 160 tahun lalu, sempat diberikan kepada Raja Willem III pada tahun 1862 sebagai hadiah.

Intan ini disebut oleh seorang menteri Belanda pada sekitar tahun 1900an sebagai "benda jelek dan kotor", karena tak pernah berhasil dijual akibat biaya pengolahan yang sangat mahal saat itu.

sejarawan Belanda
BBC
Sejarawan Caroline mempertanyakan mengapa berlian yang merupakan "jarahan perang" ini disimpan di museum Belanda.

Kerabat sultan menyebut "simbol kesultanan yang dirampas" Belanda ini harus kembali ke tanah Banjar.

Pemerintah Indonesia dan Belanda sendiri saat ini tengah melakukan riset terkait benda-benda bersejarah yang ada di museum Belanda dan museum Eropa lain, termasuk berlian ini, di tengah wacana pengembalian berbagai artefak.

BBC News Indonesia menelusuri asal usul berlian Sultan Adam Al-Watsiq Billah yang berkuasa pada 1786-1857 serta cerita gelap - kekerasan perang zaman kolonial - di balik permata ini.


Benda indah berkilau dengan banyak cerita gelap

Berlian Banjarmasin:
BBC
Berlian Banjarmasin: "Jarahan perang", milik Sultan Banjarmasin.

Di satu ruangan di Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, berlian Banjarmasin diletakkan di tengah, dengan sejumlah artefak lain dari Indonesia.

Pada satu sore di minggu pertama Maret, sekitar satu jam sebelum museum tutup, setidaknya ada 10 orang dalam waktu 15 menit menatap dan membaca keterangan tentang berlian ini.

Di ruangan "Dutch East Indies" ini juga dipajang artefak dari Lombok yang disebutkan dibawa oleh tentara Belanda setelah menaklukkan kerajaan di sana pada 1894, sebanyak 230 kilogram emas, 7.000 perak dan permata yang tak terhitung jumlahnya.

Ada juga sejumlah meriam yang disebutkan dibawa "setelah Perang Jawa pada 1825-1830."

Nasib berlian Banjarmasin sendiri setelah dibawa ke Belanda pada abad ke-19 dulu tak berjalan mulus.