Cicipi Keju Rasa Manusia

Keju dari bakteri manusia
Keju dari bakteri manusia
Sumber :
  • dezeen

VIVAlife – Siapa yang tidak kenal keju? Produk turunan dari susu yang dibuat dengan memisahkan zat-zat padat dalam susu melalui proses koagulasi protein susu atau kasein dengan bantuan bakteri atau enzim tertentu yang disebut rennet. Umumnya, bakteri yang digunakan untuk membuat keju berasal dari keluarga Lactobacillus atau Streptococcus. Adapun beberapa jenis keju Swiss dibuat menggunakan bakteri Propionibacter shermani.

Tapi, baru-baru ini, telah diciptakan keju yang terbuat dari bakteri yang hinggap di tubuh manusia.

Ya, keju tersebut dibuat dalam sebuah eksibisi mengenai biologi sintetis Grow Your Own - Life After Nature di Dublin, Irlandia. Pembuatnya adalah ilmuwan Amerika Serikat, Christina Agapakis dan ahli aroma asal Norwegia, Sissel Tolaas. Keduanya memilih untuk “memanen” bakteri dari beberapa figur publik seperti seniman Olafur Eliasson, kurator Hans Ulrich Obrist dan seorang chef Michael Pollan. Bakteri diambil dari beragam bagian tubuh antara lain hidung, air mata, pusar dan jari kaki. Bakteri tersebut kemudian digunakan untuk membuat keju.

Proyek yang dinamakan “Selfmade” tersebut tentu saja tidak untuk dimakan melainkan merupakan karya seni. Agapakis dan Tolaas menghadirkan 11 macam keju.

“Kami menghadirkan keju yang dibuat menggunakan bakteri dari tubuh manusia,” kata Agapakis kepada Majalah Dezeen. “Setiap orang punya kumpulan bakteri yang unik dalam tubuhnya dan keunikan tersebut akan menghadirkan ciri khas tersendiri pada keju yang kami buat,” ujarnya, sembari menambahkan setiap keju yang mereka buat punya aroma layaknya aroma tubuh si donor bakteri.

Ia juga menjelaskan bahwa bukan rahasia umum lagi bahwa aroma keju asli memang hampir mirip dengan aroma tubuh manusia. Yang mengagetkan adalah ternyata tak hanya aromanya, populasi mikrobial keju dan tubuh manusia pun hampir sama.

“Kami menemukan hal yang mengejutkan, bahwa bagian tubuh manusia yang kerap berbau kurang sedap punya populasi mikrobial serupa,” katanya.

Dengan proyek uniknya ini, Agapakis juga berhasil membuktikan bahwa organisme hidup di tubuh juga terdapat di makanan dan sebaliknya. Selain itu, Agapakis mengatakan pengetahuan dan teknologi mikrobiologi dapat digunakan untuk menciptakan mikroba sintetis.

“Kendati punya komposisi mikrobial yang sama, terdapat perbedaan kultur dan respon terhadap aroma keju dan aroma tubuh yang kurang sedap,” kata Agapakis. “Dengan membuat keju yang beraroma tubuh manusia, kami ingin menekankan adanya hubungan bakterial di antara keduanya serta memperluas peran aroma tubuh juga mikroba yang hidup di tubuh kita dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Agapakis juga menambahkan, tidak akan ada yang mau mencicipi keju yang mereka buat. Namun setidaknya dia dan Tolaas berhasil menciptakan landasan baru akan hubungan antara tubuh dan bakteri di dalamnya. Keduanya berharap penemuan mereka bisa membantu mengatasi ketakutan masyarakat akan mikroorganisme.

Selain keju rasa manusia, pameran biologi sintetis tersebut juga menampilkan karya Alexandra Daisy Ginsberg berupa makhluk sintetis yang bisa menyelamatkan lingkungan serta konsep manusia yang bisa melahirkan hewan untuk kemudian dikonsumsi. (eh)