Bisnis Quick Chicken Pratikkan Filosofi Jenderal Sudirman
Sabtu, 2 Januari 2016 - 14:00 WIB
Sumber :
Ia sempat menyesali outlet pertama Quick Chicken di Demangan, Yogya pada tahun keempat tidak bisa dipertahankan alias harus dilepas. Penyebabnya adalah harga sewa yang melambung tinggi membuat kalkulasi bisnis dipastikan merugi jika dipertahankan.
Seiring membaiknya iklim bisnis Tanah Air dan makin berkibarnya bendera Quick Chicken, Bendi mengisahkan sejak 2005 sudah marak permintaan kerja sama bisnis berupa sistem waralaba.
Filosofi gerilya Bapak TNI Jenderal Sudirman ternyata ia praktikkan dalam menebarkan bisnis Quick Chicken. Sadar kalau bisnisnya itu kalah segalanya dari pemain modal besar di bisnis serupa, Bedi memakai strategi unik.
Setelah melalui survei terencana dengan mengedepankan sejumlah data akurat di sebuah lokasi –umumnya pinggiran kota--yang diprediksikan ramai pembeli dengan beberapa kriteria yang sifatnya intern, Bedi baru berani memutuskan membuka outlet. Maka itu, jangan heran kalau outlet Quick Chicken justru ada di pinggiran-pinggiran kota, namun menebar rata.
Sebut saja untuk kawasan Jabodetabek. Ia penuh keyakinan membuka outlet yang menebar rata di kawasan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, bahkan pihaknya kewalahan untuk memenuhi derasnya permintaan kerjasama bisnis sistem waralaba itu.
“Untuk langsung menandingi pemain besar, sudah pasti kami keok. Namun, strategi yang kami rancang ini terbukti menuai hasil yang memuaskan. Kami akan fokuskan membuka outlet-outlet di area sekitar Jakarta, baru kemudian memantapkan diri untuk masuk ke Jakarta. Secara perlahan tapi pasti, kami juga akan mengembangkan sayap ke Pulau Sulawesi dan Kalimantan,” ujarnya.
Sri Mulyani: Nilai Perjanjian WIEF US$900 Juta, Masih Kecil
Ia mengharapkan perjanjian ini meningkatkan jaringan pengusaha UMKM.
VIVA.co.id
4 Agustus 2016