Serat Optik Moratel Habiskan Rp 404M

VIVAnews - Memperluas jaringan internasional dari Indonesia, Mora Telematika Indonesia (Moratel) baru-baru ini membangun serat optik untuk saluran komunikasi kabel laut (SKKL). Jaringan yang tengah dibangun ini akan akan menjadi sentra gerbang alternatif selain melalui Singapura.

Dalam keterangan resminya yang diterima VIVAnews, Jumat 10 Juli 2009, Moratel mengungkapkan telah menyiapkan kocek investasi sekitar US$ 40 juta atau setara Rp 404 miliar. Kocek tersebut akan digunakan untuk membangun serat optik kabel laut antara Batam-Dumai, Dumai-Malaka (BDM), dan pembangunan sistem DWDM dari Dumai-Jakarta, melalui Palembang, Lampung, Kalianda, dan Anyer.

Sebelumnya, pada 2008, Moratel telah menyelesaikan pembangunan jaringan Java Back Bone dengan menggunakan teknologi terkini DWDM dengan kapasitas awal 80Gbps sepanjang 2600 KM meliputi Pulau Jawa yang saat ini beroperasi dengan baik.

Pada tahun yang sama, Moratel juga telah mengoperasikan MIC-one, yakni jaringan SKKL antara Batam – Singapura dengan kapasitas 48 core, dan pada saat ini merupakan salah satu tulang punggung penghubung antara Indonesia dan dunia luar.

Dengan demikian, seluruh kabel laut yang dimiliki Moratel telah menghubungkan Pulau Batam, Sumatera, serta Jawa, yang kemudian dilanjutkan ke Malaka sebagai gerbang alternatif internasional, yang selama ini hanya lewat Singapura.

Untuk membuka akses di Malaka, Moratel menggandeng Telekom Malaysia (pemilik operator XL) yang juga membangun SKKL Dumai Malaka Cable System.

Di Indonesia, operator selular yang kepincut untuk menyewa jaringan yang tengah dibangun ini adalah salah satunya Mobile-8 Telecom.

Mobile-8 mengaku baru sebatas menyewa kapasitas 210 MB. Jumlah tersebut akan ditambah seiring meningkatnya trafik akses. "Ini untuk trafik gateway internasional saja. Untuk lokal sudah satu lambda," ucap Merza Fachys, Presiden Direktur Mobile-8. 

Menurut Merza, jaringan serat optik yang disewa Mobile-8 ini kemudian akan digunakan untuk menyalurkan trafik akses internet EVDO produk Mobi. “Kapasitas jaringan yang sudah terpakai untuk pelanggan Mobi baru mencapai 40 persen,” ucapnya.