7 Hal Ini Perlu Diketahui Tentang Panama Papers
- www.commondreams.org
VIVA.co.id – Publikasi Panama Papers mengejukan seluruh dunia. Laporan yang dibuat oleh International Consortium of Investigative Journalists, menyatakan bahwa pejabat tinggi di seluruh dunia menyembunyikan kekayaan melalui perusahaan rahasis di Panama.Â
Dilansir dari CNNMoney, Kamis 7 April 2016, penyelidikan ini didasarkan pada lebih dari 11 juta email, dokumen dan catatan klien diduga bocor dari Mossack Fonseca, sebuah firma hukum yang berbasis di Panama.
Berikut yang perlu diketahui tentang skandal Panama Papers:
1. Apa yang terbaru?
Publikasi laporan memicu krisis pemerintahan di Islandia, di mana Perdana Menteri Sigmundur David Gunnlaugsson mengundurkan diri pada Selasa.Â
Laporan mengungkapkan, dugaan link ke sebuah perusahaan di Panama yang memiliki saham di Islandia, sehinggga memicu protes massa di ibukota negara.
Beberapa bank besar, termasuk UBS, Credit Suisse dan HSBC, telah dituduh membantu klien mereka menyembunyikan uang di perusahaan di negara bebas pajak. Bank-bank membantah tuduhan pada Selasa.
Di China, telah melakukan sensor dan membatasi hasil pencarian dan diskusi di media sosial yang melibatkan istilah "Panama Papers" dan "Panama."Â
Mereka juga memblokir penggunaan nama-nama kerabat pemimpin China saat ini dan mantan pejabat yang disebutkan dalam laporan - termasuk Presiden Xi Jinping.
Sementara itu, pemerintah di Inggris, Prancis, Belgia, Australia dan Meksiko telah berjanji untuk menyelidiki kebocoran untuk kemungkinan kasus penggelapan pajak.
2. Siapa yang terlibat dalam dokumen?
Dokumen-dokumen itu menyebut 12, atau mantan pemimpin dunia, serta 128 politisi lain dan pejabat publik. Dugaan melibatkan rekan dari Vladimir Putin (pemimpin Rusia sendiri tidak disebutkan namanya dalam salah satu dokumen),Â
Termasuk FIFA, Presiden Argentina Mauricio Macri, ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron, beberapa pejabat China, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, dan lain-lain .
3. Apa yang mereka katakan?
Pejabat dan tokoh masyarakat yang disebutkan dalam laporan menanggapi dengan penolakan dan kemarahan, dan membantah  membuat perusahaan di luar negaranya untuk menyembunyikan miliaran dolar.
Bahkan, Kremlin menolak tuduhan tersebut, dan menyebutnya sebagai  "serangkaian kebohongan" yang bertujuan untuk mendiskreditkan Putin menjelang pemilihan.Â