Fahri Hamzah Hadiri Managing Disruption Amidst Global Change
VIVA.co.id – Wakil Ketua DPR RI Korkesra Fahri Hamzah menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam acara yang digelar oleh Selasar.com dengan tema Managing Disruption Amidst Global Change, dalam rangka mencari masukan tentang bagaimana Indonesia bisa unggul di tengah gelombang disruptive innovation dan dinamika perdagangan kawasan, di ruang Operation Room Gedung Nusantara Komplek DPR, Senayan, Jakarta, Kamis 28 April 2016.
Pada kesempatan itu Fahri Hamzah menyampaikan bahwa pada trend masa depan, negara bisa saja kehilangan penggemarnya, karena ditemukan negara baru yang virtual sifatnya. Oleh karena itu jika ditanya bagaimana Indonesia bisa lebih unggul, maka sebetulnya Indonesia dalam persepsi seperti itu harus mengalami perubahan makna.
Otoritas negara di dalam industri digital jangan terlalu mengekang, seperti UU ITE yang banyak sisi kebablasannya. Karena UU itu dibuat pada saat transisi ketika memang Undang-undangnya belum ada, jadi negara seperti gelagapan, selain itu juga UU ini banyak memakan korban di kemudian hari, maka UU perlu ada amandemen baru.
Negara yang kuat adalah jika masing-masing anggota rakyat atau individu-individunya bisa bertindak lebih kuat dari pada negara, seperti yang terlihat saat ini dimana-mana. Orang-orang yang semula dianggap ‘aneh’ karena ide-idenya, justru malah bisa diterima di dalam segmen pasar.
“Orang seperti Mark Zuckerberg (co-founder Facebook-red), memiliki penduduk paling banyak saat ini yakni sekitar 1 miliar lebih, dan lebih besar dari Cina Daratan. Jadi Presiden terkuat saat ini adalah Mark Zuckerberg,” ujar Fahri yang disambut tawa para peserta yang hadir.
Di bagian lain, Fahri mengatakan, diantara sebab seringnya terjadi begitu banyak kekacauan saat ini, karena negara kurang antisipatif dengan pertumbuhan dan perkembangan rakyatnya. Orang tidak harus merintis menjadi pengusaha lalu kemudian menjadi pejabat, tapi harus banyak pejabat yang mau dan rajin membaca, dan juga mengerti bagaimana cara mengantisipasi trend dari kebebasan sipil saat ini. Kebebasan anak-anak muda generasi Y dan generasi Z yang menciptakan kehidupannya sendiri, dimana kadang-kadang kehidupannya yang virtual jauh lebih relevan dari pada upacara-upaacara formil yang ada dalam kehidupan sosial lama.