Sindiran Menkeu Bambang ke IMF

profil tokoh Bambang Brodjonegoro
Sumber :
  • Istimewa

VIVA.co.id – Dana Moneter Internasional (Internasional Monetery Fund/IMF) kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tahun ini menjadi sebesar 2,2 persen, jauh lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan ekonomi pada tahun lalu yang tercatat sebesar 2,4 persen.

Kemenkeu: Pertumbuhan Ekonomi 2021 yang Dirilis BPS Sesuai Prediksi

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengakui bahwa proyeksi yang ditetapkan oleh lembaga donor tersebut memang sudah diperkirakan. 

Menurut Bambang, proyeksi IMF memang selalu berubah-ubah dalam satu tahun kalender.

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2021 Capai 3,69 Persen

“IMF itu hobinya pasang (proyeksi) tinggi, kemudian dipotong ke bawah supaya kelihatan penting,” ujar Bambang, usai rapat kerja bersama Komisi VI di gedung parlemen Jakarta, Kamis, 23 Juni 2016.

Menurut IMF, jatuhnya perekonomian Negeri Paman Sam memang disebabkan oleh menguatnya mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang negara tujuan dagang. 

BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2022 Maksimal 5,5 Persen

Dengan demikian, nilai ekspor menjadi lebih rendah, dan membuat barang-barang menjadi tidak kompetitif.

Lantas, apakah Indonesia akan terkenda dampak dari perlambatan ekonomi AS? Ekonom PT Bank Central Asia, David Sumual, saat berbincang dengan VIVA.co.id mengatakan, melalui sektor perdagangan, AS sudah tidak lagi menjadi negara tujuan utama dari hasil ekspor Indonesia.

“Sekarang kita terbesar itu dengan China dan India, karena sekarang presentasenya sudah mencapai delapan sampai 10 persen. Bahkan, di bulan-bulan tertentu bisa 12 persen. Tetapi, karena harga komoditas melemah, tentu tidak ada pengaruh lagi,” katanya.

Menurut David, perlambatan ekonomi di AS bisa menjadi suatu momentum untuk menekan ketidakpastian global. Contohnya, kondisi ekonomi di negara adidaya itu bisa menjadi acuan bank sentral AS (The Fed) untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunganya di kisaran 0,25-0,5 persen.

Dengan diredamnya ketidakpastian tersebut, tentu tidak akan memengaruhi gejolak yang terjadi di pasar keuangan global. 

Artinya, stabilitas ekonomi makro nasional pun tidak akan terpengaruh dari sentimen-sentimen negatif tersebut.

“Ini kesempatan kita mendorong investasi masuk, terutama yang bersifat langsung terutama di bidang manufaktur,” ujar David.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya