Proyek Blok Masela Diminta Dipercepat

Ilustrasi Ladang minyak dan gas di lepas pantai.
Sumber :
  • Antara/ Saiful Bahri

VIVA.co.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanggil pihak kontraktor proyek blok Masela, Inpex Corporation, untuk melakukan pembicaraan terkait percepatan pengerjaan proyek blok Masela.

PMA Tak Merata Akibat Kurang Listrik

Dalam pertemuan itu dibicarakan terkait progres rencana pengembangan terkini pembangunan fasilitas pengolahan blok gas alam cair atau LNG yang terletak di Provinsi Maluku itu. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) dari Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengatakan bahwa pembangunan kilang blok Masela melalui skema onshore (darat) sebagaimana telah diputuskan oleh Presiden Joko Widodo untuk segera dipercepat. 
Strategi Menteri Arcandra Targetkan PLTP 7.000 MW

"Ada arahan dari Pak Menteri, yaitu dipercepat apa saja yang bisa dipercepat. Misalnya proses-proses yang bisa tidak dilakukan atau yang lama-lama dipercepat," kata Wirat di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 5 Agustus 2016. 
Wapres: Elektrifikasi RI Terendah di ASEAN

Ia mengatakan salah satu langkah percepatan yang dilakukan adalah bagaimana proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dilakukan berbarengan dengan proses pendefinisian proyek atau Front End Engineering Design (FEED).

Sedianya, FEED dengan pengerjaan skema darat baru bisa dilakukan pada 2019 atau 2020. Namun dengan pengerjaan proyek secara paralel, maka FEED ditargetkan bisa tercapai sebelum 2018 atau dalam jadwal yang sama ketika skema offshore atau pembangunan kilang di lepas pantai masih disepakati. 

"Artinya, proses-proses yang serial bisa dibuat paralel seperti AMDAL berbarengan dengan FEED itu," kata dia. 

Selain itu, Wirat mengatakan bahwa inpex juga meminta beberapa insentif untuk pengembangan blok Masela. Salah satunya adalah Internal Rate of Return (IRR) atau tingkat pengembalian dari modal proyek yang diminta sebesar 15 persen per tahunnya.

"Inpex kan ‎sebagai investor selalu minta kalau bisa IRR yang atraktif untuk mereka, di kisaran kira-kira 15 persen. Mereka minta beberapa insentif, nanti kita bahas minggu depan. Jadi minggu depan bergerak terus, tiap minggu tim ini laporan ke Pak Menteri," kata dia.

Wirat menambahkan lagi, keputusan akhir investasi atau Final Invesment Decision (FID) ditargetkan tetap akan berjalan pada 2018. "Targetnya diefisiensi jauh lebih cepat, FID-nya 2018, jadi start FID sama persis dengan kalau (skema) offshore," kata dia.

(ren)
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya