Menkominfo Bantah Efisiensi Industri Sampai US$200 Miliar

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto

VIVA.co.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengungkapkan, dia tidak tahu soal asal usul sumber perhitungan efisiensi sebesar US$200 miliar, bila revisi PP 52/2000  tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan PP 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, yang menyangkut soal Network Sharing (berbagi jaringan) dan Interkoneksi segera diimplementasikan.

Pakai APBD Rp 12 Miliar, Penajam Paser Utara Bangun Interkoneksi Perpipaan Air Bersih

Secara lugas dan tegas, Rudiantara mengatakan perhitungan efisiensi yang dilakukannya tidak sampai melahirkan angka US$200 miliar. Ia mengungkapkan usai menghadiri press conference Pengumuman Pabrikasi Moto di Dalam Negeri di Ruang Serbaguna, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2016.

"Itu angka dari mana? Perhitungan (efisiensi) saya tidak sampai segitu angkanya. Tanya saja sama orangnya," ujar Rudiantara.

Pemimpin Pasar Telekomunikasi Global Dukung Ekonomi Digital Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Noor Iza, yang pertama kali mengungkapkan efisiensi industri telekomunikasi bisa mencapai US$200 miliar itu, menjelaskan asal perhitungan tersebut.

"Efisiensi industri apabila network sharing dilakukan akan percepat layanan broadband ke masyarakat. Ketika cepat, masyarakat akan merasakan benefit lebih besar. Dalam satu tahun, perputaran harga di masyarakat sampai Rp11 ribu miliar lebih. Kalau peningkatan 10 persen broadband, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi 1,3 persen, kontribusi 1,3 persen, itu sudah berapa," tuturnya.

Industri Telekomunikasi 2023: Tetap Optimis meski Tidak Baik-baik Saja

Mengenai perbedaan perhitungan antara dia dengan Menkominfo, Noor memastikan, keduanya satu jalan soal efisiensi industri telekomunikasi apabila network sharing dilaksanakan. Penghematan senilai US$200 miliar itu merupakan akumulasi dari beberapa tahun ke depan.

Ketika ditanya mengenai potensi efisiensi tersebut sampai kapan bisa dirasakan dan dasar perhitungannya, Noor mengaku tidak ingat betul. Dia mengatakan, efisiensi tersebut menyangkut soal telekomunikasi, Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), network sharing, dan sebagainya 

"Satu tahun efisiensi saja itu begitu besar, apalagi tahun-tahun ke depan," jawabnya.

Layanan platform OTT (over the top).

Indonesia Diminta Belajar dari Inggris dan Turki

Indonesia bisa belajar dari Austria, Prancis, Hungaria, Italia, Portugal, Spanyol, Turki, dan Inggris yang telah menerapkan Digital Services Task (DST) untuk layanan OTT.

img_title
VIVA.co.id
28 Desember 2023