Tanamkan Disiplin Pada Anak

VIVAnews - Masih ingat seperti apa orang  tua mendidik Anda semasa kecil? Mungkin ayah dan ibu cukup keras mendisiplinkan Anda. Misalnya, jika Anda nakal, mereka akan ‘menghadiahi’ cubitan atau jeweran. Tapi, ketika Anda sudah memiliki anak, apakah Anda sama kerasnya seperti orang tua Anda? Atau, malah terlalu memanjakan si kecil?

Untuk masalah ini, Primary Care Practices Barkin S, Clinical Pediatrics, AS, melakukan penelitian terhadap 2134 orang tua yang memiliki anak usia 2 – 11 tahun. Mereka diminta mengisi kuisioner tentang disiplin anak. Ternyata 54% orang tua mendidik anak tidak sekeras orang tua mereka. Sedangkan, 38% mendidik anak dengan keras.

Hasil kuisioner tersebut juga mengatakan, cara mereka mendisiplinkan anak, 31% orang tua tidak memperbolehkan anaknya menonton tv atau bermain,  22% membentak, 19% memukul, dan 5% mendiamkan. Namun, dua pertiga jumlah responden mengatakan teknik disiplin yang dilakoni jarang, bahkan tidak pernah efektif. Sehingga akhirnya, orang tua malas mendisiplinkan si kecil.

Duh, sebaiknya Anda jangan menyepelekan hal ini. Menurut penelitian ini, bila terus memanjakannya, buah hati Anda akan tumbuh menjadi ‘diktator’ cilik. Tak ingin hal itu terjadi, kan? Maka itu, mulailah menanamkan disiplin pada buah hati sejak dini. Bahkan, Anda bisa memulai kebiasaan ini sejak usianya enam bulan. Caranya:

Bisa berkata ‘tidak’
Menerapkan sikap tegas dan menetapkan rambu-rambu aturan patut dipraktekkan sejak dini. Memang, cara termudah mencintai seseorang adalah dengan selalu mengatakan ‘ya’. Tetapi, sama pentingnya, untuk sesekali berkata ‘tidak’.

Dengan memberikan batasan, Anda memperkenalkan anak pada dunia nyata, yang penuh dengan aturan. Serta membuatnya menghormati nasehat ayah dan ibu. Dengan begitu, ketika melangkah ke dunia di luar rumah, si kecil tidak terkaget-kaget.

Hindari memukul
Mungkin, orang tua Anda menghukum Anda dengan cara memukul, menjewer atau mencubit. Tapi, sebaiknya Anda jangan menerapkan disiplin dengan kekerasan fisik, seperti  memukul, mengguncang tubuh dengan keras atau apapun yang sifatnya sama. Ketimbang memukul, cobalah  berbicara tegas padanya ketika ia berbuat nakal.

Biarkan dia menangis
Jika si kecil hobi menangis, ada baiknya Anda tidak langsung mengabulkan permintaannya. Cobalah membiarkannya menangis. Kadangkala ini merupakan satu cara yang efektif. Biarkan anak Anda menangis sendiri di kamarnya beberapa saat. Setelah dia cukup tenang coba dekati, dan ajaklah berbicara. Pastinya dibutuhkan juga sedikit gaya berakting, agar si kecil bisa belajar disiplin.

Koreksi kesalahannya
Pastikan Anda dan pasangan menyiapkan beberapa pedoman dasar disiplin. Putuskan jenis perlakuan-perlakuan tidak baik yang harus selalu dikoreksi – seperti memukul adik dan kakak (saudara kandung) atau dengan sengaja menyentuh pintu oven. Kecuali Anda bersikap konsisten, anak akan bisa memilah-milah yang benar dan salah, dan siap menghadapi dunia nyata.