Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Jadi pemicunya adalah istri?
Selain trigger dari istri, di Gontor itu moto penting yang selalu diingatkan kepada kita adalah ‘kamu jadi apa aja silakan, tetapi yang penting kamu harus bermanfaat bagi orang lain’. Carilah tempat di mana kita bisa bermanfaat dengan maksimal.
Maksudnya?
Waktu itu saya pikir, terlalu sibuk dengan urusan duniawi, tentang kerja, sekolah, hidup nyaman. Saya ingat, teman-teman saya yang lulus dari pesantren ada yang membuat pesantren dengan murid 3.000 orang itu besar banget manfaatnya. Ada yang punya uang banyak banget, dan dia membagi hartanya ke banyak orang. Nah, saya apa? Sebenarnya itu perjalanan ke dalam, apa yang dikerjakan oleh diri saya. Sekolah itu manfaatnya buat diri saya, ada duit itu hanya buat keluarga saya, enggak lebih dari itu yang bisa saya lakukan.
Lalu?
Lalu, saya ingat punya cerita dan bisa nulis. Paling enggak nulis berita. Waktu itu belum nulis novel. Dari situ ketemulah ide cerita. Ada dorongan dari istri, keinginan untuk bermanfaat lebih luas, akhirnya mulailah saya menulis. Sebenarnya, ada khawatir dari istri saya, karena saya baca novel aja jarang, tetapi mau nulis novel.Â
Bagaimana Anda belajar nulis fiksi?
Ada momen, di mana istri saya tugas ke Singapura. Di sana, dia cari buku cara menulis novel. Judulnya, "How to Write a Novel". Kata istri saya, "Nih, bang saya kasih hadiah (buku panduan itu), baca dulu baru nulis."
Dia khawatir nanti jelek. Jadi, saya bikin buku benar-benar dari dasar, baca buku panduan, barulah menuliskan cerita menjadi sebuah novel.
Hasilnya?
Kritikus bilang, ini novel kok kayak laporan jurnalistik. Mungkin juga ya, saya belum cocok jadi novelis, jadinya reporter, pelapor panjang. Tetapi, saya terus belajar. Jadi, trigger-nya macam-macam, dari luar dan dari dalam. Â
Bagaimana proses kreatifnya?Â
Kalau menulis yang teknis dan risetnya, saya terbantu, karena pernah menjadi wartawan. Karena jadi wartawan itu terbiasa dengan riset. Jadi, risetnya lumayan.
Bisa diceritakan?
Saya pulang kampung, saya wawancara semua orang, tanya ibu saya. Waktu saya bilang mau buat novel, ibu saya bingung. Waktu itu, ibu saya masuk ke kamar dan keluar lagi membawa beberapa kertas. Ternyata, itu surat-surat saya kepada ibu selama saya di pesantren. Ibu saya menyimpan surat saya, dinomorin pula. Dan itu saya minta. Itu riset penting. Itu dokementasi pribadi. Saya baca ulang. Saya bongkar lemari tua, saya cari buku harian saya SMP.Â