Penulis Trilogi Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi

Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain

Ahmad Fuadi Bicara Novel Anak Rantau
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

Lalu?

img_title Hidayat Nur Wahid dan Puluhan Kyai Gontor Doa Bersama untuk Kedamaian Indonesia

Ada yayasan pendidikan PAUD yang runtuh kita bangun lagi. Dan, anak-anak akhirnya bisa sekolah lagi. Itu pertama yang kita lakukan untuk kontribusi berbagi ke sesama. Lalu, berpikir masak mau berhenti untuk gempa Padang. Akhirnya, kita membuat komunitas Menara yang misinya adalah untuk membantu pendidikan anak kurang mampu pre school, atau PAUD. Sekarang sudah ada lima PAUD yang didirikan komunitas Menara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa benar Anda membiayai komunitas itu dari royalti buku?

img_title Peringati Usia 100 Tahun, PMDG Putri Kampus 1 Gelar Pembukaan Intelligence Olympiad Pesantren Putri Se-Indonesia

Awalnya banyak dari royalti. Tapi sekarang, sudah banyak donator.

Kenapa pilihannya PAUD?

img_title Terpopuler: Tembok Tandon Air di Gontor 5 Roboh Tewaskan 4 Santri, Viral Anak Hilang di Depok Ternyata Rekayasa

Karena, saya percaya bahwa pendidikan karakter itu baik di usia sepanjang 0-9 tahun. Membangun karakter ini penting dan banyak terlewatkan bagi yang kurang mampu.

Anda juga memperoleh banyak beasiswa, apa tipsnya?

Saya bersyukur, berada di lingkungan yang mendukung untuk bersekolah di mana saja. Kedua, saya beruntung dapat masuk Gontor yang menghargai pendidikan. Saya juga beruntung karena tinggal di Maninjau.

Tahun 1960 an, Pakde saya sudah dapat beasiswa ke Swedia. Kakek saya mungkin menanamkan nilai pendidikan yang baik, sehingga ada ruangan khusus 3x3 meter yang isinya buku semua buku. Sakarang ada lagi, adik ayah saya dapat beasiswa ke Madinah. Jadi, kebalikannya satu Barat, satu Timur. Lalu ada lagi, yang dapat beasiswa ke Jepang. Semua itu anak-anak kampung. Dan, mereka orang yang dekat dengan saya. Jadi ada yang tumbuh di hati saya bahwa semua itu mungkin, real.

Seberapa besar kontribusi pengalaman kerja di bidang jurnalistik dalam menulis novel?

Saya melatih otot menulis itu dari wartawan, karena kita selalu dikejar-kejar deadline. Enggak ada waktu berpikir, tetapi tangan harus jalan. Menurut saya, itu melatih otot otak menulis, jadi punya reflek menulis dan tidak peduli dengan lingkungan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadi dengan pengalaman itu, saya tidak perlu mencari tempat menyepi untuk menulis, harus menunggu mood untuk menulis. Kedua, tentang budaya riset. Waktu saya belajar di Tempo itu semua harus riset dan harus panjang. 

Lalu, dari mana mendapatkan sejumlah kata mutiara yang Anda selipkan dalam novel?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut