Saya Ingin Bermanfaat untuk Orang Lain
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Apa yang Anda temukan?
Di sana masih ada buku catatan pertama. Man Jadda Wajada. Buku pelajaran beserta catatannya. Pikiran langsung terbang ke masa lalu, sehingga bisa mendeskripsikan dengan lebih baik.
Selain itu?
Saya liat foto-foto. Saya wawancara kawan-kawan saya, seperti mencari bahan reportase sih. Dari situ, saya mulai menyusun kerangka ceritanya. Waktu bikin novel Negeri 5 Menara itu saya punya perbandingan dengan buku Harry Potter, Laskar Pelangi, dan The Kite Runner.Â
Berikutnya, referensi saya Harry Potter>>>
Kenapa?
Saya suka gaya bercerita Andrea Hirata. Tetapi, untuk menerapkan cerita pesantren agak susah. Jadi, referensi saya Harry Potter. Karena, pola-polanya ada kesamaan yang bisa digunakan untuk menceritakan kegiatan asrama di Gontor.Â
Apa yang membuat Anda berpikir novel bisa berkontribusi kepada orang banyak?
Kan, harus melakukan apa yang paling nyaman dan paling berpotensi di bidang itu. Saya cek ke dalam, yang saya paling nikmati itu nulis. Saya pernah menulis di media. Jadi, artinya sudah ada pelatihannya yang standar. Saya punya konten cerita yang menurut istri saya menarik..Â
Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan novel Negeri 5 Menara?
Dua tahun. Mulai dari riset, wawancara hingga menyelesaikan tulisan. Waktu itu, saya masih kerja full time, jadi biasanya saya nulis habis subuh, sebelum ngantor. Pas di kantor, istirahat makan siang, nulis lagi. Malam kalau ada waktu nulis lagi. Sehari rata-rata 1-2 halaman. Jadi, setahun rata-rata bisa dapat 300-400 halaman. Tinggal diedit, diperbaiki, dua tahun jadi.Â
Anda menikmati?
Karena di pesantren adalah momen yang sangat kuat dalam hidup saya, jadi menikmati sekali. Makanya, kalau banyak orang tanya gimana cara menulis yang asyik, saya jawab pilih apa yang melekat di hati kamu dan tulis dengan senang hati.Â
Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dengan novel-novel tersebut?
Banyak pesan ada di dalam Negeri 5 Menara. Salah satunya adalah kerja keras, bersungguh-sungguh. Makanya ada istilah, Man Jadda Wa Jada. Kedua, jangan remehkan cita-cita kita setinggi apapun. Karena, Allah bisa mendengar apapun, sekali pun yang ada di hati kita.