Alasan Kenapa Harus Hati-hati Sama Utang
- Pixabay/Stevepb
Kini, banyak bermunculan fintech yang menawarkan pinjaman yang beroperasi di sejumlah negara Asean. Sebut saja sebuah aplikasi pinjaman online dengan inisial MM yang menawarkan bunga hingga 56 persen selama 28 hari. Jika Anda meminjam Rp1 juta, dalam 28 hari Anda harus mengembalikan sebesar Rp 1,56 juta. Luar biasa!
  Â
2. Jaga rasio aset dengan utang dan cicilan dengan penghasilan
Dalam mengelola keuangan rumah tangga, Anda harus terus mengukur dan mengealuasi utang Anda. Dari sejumlah riset Halomoney.co.id, sebaiknya Anda menjaga rasio utang Anda terhadap total aset kurang dari 50 persen.Â
Jika total aset yang Anda miliki (rumah, mobil, dan motor) sebesar Rp500 juta, namun total utang Anda (Kredit Pemilikan Rumah, utang cicilan mobil, dan utang lainnya) sebesar Rp300 juta. Ini berarti total utang Anda mencapai 60 persen.Â
Ini sudah tidak sehat, sehingga Anda harus mengurangi jumlah utang hingga rasionya 50 persen. Minimal, Anda harus menahan diri dan mengetatkan ikat pinggang hingga salah satu utang lunas.
Â
Rasio lainnya ialah rasion cicilan terhadap penghasilan. Sebaiknya, Anda harus menjaga agar cicilan untuk membayar semua utang tidak lebih dari 30-35 persen. Sisa penghasilan Anda sebesar 65-70 persen akan Anda gunakan untuk membiayai kebutuhan bulanan dan menabung hingga investasi.Â
Â
3. Kenali utang produktifÂ
Meskipun, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh berutang. Dalam pengelolaan utang rumah tangga, Anda harus mengenal utang produktif.Â
Upayakan agar utang yang Anda ambil, bisa memberikan Anda penghasilan dan manfaat. Itulah salah satu cara membuat utang Anda produktif, tidak sekadar konsumtif.Â
Dengan utang produktif, Anda akan menambah aset secara perlahan. Namun, pengelolaan utang produktif menuntut Anda untuk disiplin mengelola pemasukan dan belanja agar penghasilan yang dihasilkan tidak tergerus oleh belanja yang serampangan. (asp)