Suku Bunga BI Naik, Apindo: Dunia Usaha Kembali Tertekan

Jajaran petinggi Apindo.
Jajaran petinggi Apindo.
Sumber :
  • Arrijal Rachman/VIVA.co.id.

VIVA Bisnis – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen pada September 2022 ini. Setelah Agustus lalu juga menaikkan suku bunga acuannya sebesar 3,75 persen.

Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani menilai, kenaikan suku bunga acuan ini kembali membatasi pertumbuhan atau disinsentif pada dunia usaha. Sebab dengan kenaikan ini akan melemahkan konsumsi masyarakat.

"Ketika pemerintah secara agresif melakukan penyelamatan fiskal dengan banyak disinsentif ke dunia usaha. Selanjutnya pemerintah kembali membuat kebijakan dari sisi moneter, yang membuat dunia usaha kembali mengalami tekanan, dengan potensi melemahnya konsumsi," kata Ajib dalam keterangan, Jumat 23 September 2022.

Baca juga: Rupiah Menguat di Posisi Rp 15.012 per Dolar AS

Ajib menekankan, Pemerintah seharusnya lebih fokus dengan memberikan insentif ketimbang menaikkan suku bunga. Insentif itu dimaksudkan agar terjadi pengurangan biaya-biaya, dan kemudahan produksi sehingga efek inflasi tetap bisa terjaga.

Adapun langkah BI dalam menaikkan suku bunga acuannya, untuk menjaga laju inflasi yang terus merangkak naik. Di mana di kuartal II-2022, inflasi Juli menunjukkan angka 4,94 persen year to year (yoy). Jauh dari asumsi makro awal penyusunan APBN 2022 yang ditarget hanya kisaran 3 persen secara agregat pada 2022.

"Misalnya kebijakan relaksasi kredit untuk dunia usaha yang kembali diperpanjang karena narasi besar atas potensi inflasi. Dengan pola pembiayaan yang lebih terukur dan manageable, dunia usaha akan mempunyai fleksibilitas," ujarnya.

Apindo merespons penetapan UMP DKI Jakarta yang terlalu tinggi.

Apindo merespons penetapan UMP DKI Jakarta yang terlalu tinggi.

Photo :
  • istimewa

Ajib menilai, dengan kebijakan moneter BI menaikkan suku bunga acuan terdapat dua hal yang perlu dimitigasi. Pertama, untuk pertumbuhan ekonomi akan terjadi koreksi dan inflasi yang terus merangkak naik.

"Sampai akhir tahun, pertumbuhan ekonomi cenderung akan bergerak di angka 5 persen, tetapi yang bahaya adalah ketika inflasi yang terjadi di atas pertumbuhan ekonomi. Karena ketika kondisi tingkat inflasi di atas pertumbuhan ekonomi terjadi, maka secara substantif kesejahteraan masyarakat akan turun dan terkorbankan," imbuhnya.