Batu Sandungan Taliban

Pasukan Taliban dengan seragam taktikal bersenjata menguasai Kabul Afghanistan
Pasukan Taliban dengan seragam taktikal bersenjata menguasai Kabul Afghanistan
Sumber :
  • Twitter @TalibanSoldiers

VIVA – Ketakutan terburuk dari kericuhan yang terjadi di Kabul Afghanistan menjadi kenyataan. Dua aksi bom bunuh diri meledak di dekat Bandara Hamid Karzai, Kabul pada Kamis, 26 Agustus 2021. Setidaknya 169  warga sipildan 13 tentara AS dilaporkan tewas dalam serangan bom tersebut. Sementara ratusan orang lainnya luka-luka.

Serangan mematikan itu terjadi di tengah upaya evakuasi sekitar 100.000 orang telah diterbangkan dari Bandara Kabul selama dua minggu terakhir, menyusul jatuhnya ibu kota ke tangan Taliban.

Presiden AS Joe Biden menegaskan tidak akan menghentikan misi evakuasi warga sipil di Afghanistan, sekalipun diguncang teror bom. Ia juga akan tetap menaati tenggat penarikan pasukannya dari Afghanistan mulai 31 Agustus.

"Kami tidak akan terhalang oleh teroris. Kami tidak akan membiarkan mereka menghentikan misi kami. Kami akan melanjutkan evakuasi," kata Presiden AS Joe Biden dari Gedung Putih pada 26 Agustus 2021, dilansir New York Post.

Intelijen AS dan sekutu sebelumnya sudah memperingatkan potensi serangan teror di Bandara Kabul beberapa jam sebelum ledakan. Termasuk kekhawatiran kelompok teroris yang menunggangi kericuhan yang terjadi di Bandara Kabul sepekan sebelumnya.  
 
Presiden Joe Biden menyebut gerilyawan ISIS-K berada di balik teror bom di dekat Bandara Kabul, Afghanistan. ISIS-K adalah kependekan dari ISIS Khorasan, kelompok teroris yang dibentuk pada akhir 2014 dan beroperasi sebagai afiliasi ISIS di Afghanistan dan Pakistan.

Khorasan adalah nama wilayah yang mencakup Afghanistan, dan sebagian Timur Tengah dan Asia Tengah. Kelompok ini juga dikenal sebagai ISIS-K atau IS-K.

"Kepada mereka yang melakukan serangan ini, serta siapa pun yang ingin membahayakan Amerika, ketahuilah ini: Kami tidak akan memaafkan. Kami tidak akan lupa. Kami akan memburu Anda dan membuat Anda membayar. Kami akan merespons dengan kekuatan dan ketepatan pada waktu dan tempat yang kami pilih dan saat yang kami pilih," tegas Biden.