Netanyahu Diduga Terlibat Skandal Kebocoran Data Intelijen Israel

VIVA Militer: Benjamin Netanyahu bersama tentara Israel
Sumber :
  • Facebook/The Prime Minister of Israel

Tel Aviv, VIVA – Surat kabar Israel Haaretz menerbitkan skandal keamanan yang melibatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas penunjukan seorang juru bicara yang ikut serta dalam "sesi keamanan sensitif." Diketahui, pelibatan juru bicara Netanyahu dianggap ilegal karena belum lulus izin keamanan.

img_title Serangan Udara Israel Membabi Buta, 2 Bayi dan Petugas Medis Tewas

Selain itu, dilaporkan pada Jumat, 1 November 2024, juru bicara Netanyahu membocorkan informasi dan dokumen, beberapa di antaranya hanyalah kebohongan tentang mantan kepala biro politik kelompok Palestina Hamas, Yahya Sinwar ke surat kabar asing, sementara dokumen lainnya berisi materi keamanan yang serius dan sensitif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

VIVA Militer: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu

Photo :
  • theaustralian.com.au

img_title Benjamin Netanyahu Jadi Orang yang Paling Ingin Dihadapi Bilal Hasan

Surat kabar tersebut mencatat bahwa dapat dipastikan jubir Netanyahu ini berpartisipasi dalam konsultasi keamanan tertutup dan sensitif serta terus menerima informasi rahasia, termasuk transkrip rapat kabinet.

Saluran 7 Israel mengatakan bahwa sensor militer telah memberlakukan larangan penerbitan terkait masalah atau skandal ini, sementara Netanyahu menuntut pencabutan larangan penerbitan dengan alasan keinginan untuk transparansi.

img_title Sudah 73.651 Nyawa Melayang di Gaza

Saluran tersebut juga mengonfirmasi bahwa juru bicara Netanyahu tidak memiliki izin keamanan apa pun.

Surat kabar berbahasa Ibrani Israel, Israel Hayom, melaporkan pada Jumat bahwa arahan Kementerian Dalam Negeri mencakup penghentian kerja sama dengan Haaretz karena pernyataan penerbitnya, Amos Schocken.

Kementerian tersebut menuntut permintaan maaf dari Schocken atas deskripsinya tentang warga Palestina.

Pada konferensi pers berikutnya, Schocken menyatakan penyesalannya atas komentarnya.

"Saya telah mempertimbangkan kembali kata-kata saya. Mengenai Hamas, mereka bukanlah pejuang kebebasan," katanya, dikutip dari ANews, Senin, 4 November 2024.

Dalam sambutannya, Schocken mengkritik pemerintahan Netanyahu, dengan mengatakan bahwa pemerintahan tersebut tidak peduli untuk memaksakan rezim apartheid yang kejam terhadap penduduk Palestina.

Pemerintahan itu pun mengabaikan biaya yang harus dikeluarkan kedua belah pihak untuk mempertahankan permukiman, sementara memerangi pejuang kebebasan Palestina, yang oleh Israel disebut sebagai teroris.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kamp pengungsi Palestina di Jalur Gaza

Photo :
  • ANTARA/Anadolu

Schocken menyebut situasi di Gaza sebagai "Nakba kedua" atau "Bencana," mengacu pada pemindahan dan perampasan massal warga Palestina pada tahun 1948, ketika Israel didirikan, dan menyerukan sanksi terhadap Israel dengan mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai negara Palestina.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut