Jepang Siap Jadi Benteng Indo-Pasifik Hadapi Ekspansi China
- Saba.ye
Situasi tersebut mendorong Jepang untuk memperkuat otonomi strategisnya, tanpa sepenuhnya meninggalkan ketergantungan pada aliansi dengan Amerika Serikat.
Respons Tiongkok
Langkah Jepang tidak luput dari reaksi keras Tiongkok. Beijing menuduh Tokyo melakukan "remiliterisasi" dan menghidupkan kembali narasi masa lalu perang. Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyuarakan dukungan terhadap Taiwan dan negara-negara kecil di kawasan.
Sebagai respons, Tiongkok mengambil langkah ekonomi dengan membatasi ekspor terhadap sejumlah entitas Jepang, termasuk perusahaan seperti Mitsubishi Heavy Industries dan badan antariksa JAXA.
Selain itu, Beijing juga memasukkan sejumlah perusahaan lain—termasuk produsen otomotif seperti Subaru dan Hino Motors—ke dalam daftar pemantauan.
Pemerintah Tiongkok menyatakan langkah tersebut ditujukan untuk merespons “remiliterisasi dan ambisi nuklir” Jepang, serta menilai kebijakan itu sebagai "dibenarkan, masuk akal, dan sah."
Penggunaan tekanan ekonomi dinilai menjadi instrumen utama Tiongkok dalam menghadapi negara-negara yang berseberangan. Pendekatan ini sebelumnya juga terlihat dalam hubungan Beijing dengan Australia, Lithuania, Korea Selatan, dan Filipina.
Sementara itu, pejabat AS menuding Tiongkok terus memperluas persenjataan nuklirnya, memperkuat kekhawatiran terkait stabilitas strategis global.
Sebagai respons, Jepang memperluas jaringan kerja sama pertahanannya tidak hanya di Asia, tetapi juga dengan Inggris, Italia, Australia, Selandia Baru, India, hingga Uni Eropa. Langkah ini mencerminkan strategi pencegahan yang lebih terintegrasi di tengah kekhawatiran bahwa konflik seperti di Ukraina dapat meluas ke kawasan Asia Timur.
Pengamat menilai, dinamika ini menunjukkan bahwa tatanan kawasan Indo-Pasifik kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, tetapi juga oleh faktor kepercayaan dan stabilitas keamanan.
Dalam konteks tersebut, Jepang semakin dipandang sebagai aktor kunci dalam menjaga keseimbangan strategis di kawasan, di tengah meningkatnya persaingan kekuatan besar.