PBB dan Inggris Kutuk Israel karena Nekat Bangun 1.200 Rumah di Lahan Strategis Tepi Barat

Ilustrasi bendera Israel
Sumber :
  • REUTERS/Florion Goga TPX IMAGES OF THE DAY

VIVA – Pemerintah Israel resmi membuka tender pembangunan sekitar 1.200 unit rumah permukiman di kawasan strategis E1, Tepi Barat. Langkah ini dinilai sebagai upaya terang-terangan untuk menutup peluang berdirinya negara Palestina di masa depan.

img_title Suporter West Ham Nyanyikan Chant Anti-Palestina, Klub Langsung Bertindak

Rencana pembangunan di wilayah E1—yang terletak di sebelah timur Yerusalem—sejak lama menuai kritik internasional karena dianggap ilegal menurut hukum internasional, seperti dikutip dari BBC. Jika proyek ini berjalan, wilayah Tepi Barat akan terbelah menjadi dua sekaligus mengisolasi Yerusalem Timur dari daerah sekitarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tanggapan Tegas dari Inggris dan Komunitas Internasional

img_title Jerman Minta UE Sanksi Menteri Israel Ini Usai Bilang Warga Gaza Harus Dihabisi Tiap Malam

Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, mengecam keras penerbitan tender tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat diterima. Inggris mendesak Israel untuk segera membatalkan tender dan menghentikan seluruh ekspansi permukiman.

Sebagai bentuk protes, Kementerian Luar Negeri Inggris memanggil Kuasa Usaha Israel dan mengancam akan menyiapkan sanksi bagi pihak-pihak yang terlibat dalam perluasan permukiman ilegal tersebut.

img_title Israel Bayar Rp1,78 Miliar untuk Pengaruhi Jawaban ChatGPT soal Gaza

Dukungan serupa disampaikan oleh juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang menyatakan keprihatinan mendalam dan meminta Israel membatalkan langkah tersebut.

Dampak Geografis dan Kemanusiaan

Proyek ini mencakup area seluas 12 kilometer persegi di antara Yerusalem Timur dan permukiman Maale Adumim. Kelompok pengawas anti-pemukiman asal Israel, Peace Now, serta aktivis lokal memperingatkan dampak serius dari pembangunan ini:

- Membelah Wilayah Palestina: Memutus konektivitas antara Tepi Barat bagian utara dan selatan, serta menghalangi terbentuknya wilayah perkotaan terpadu yang menghubungkan Ramallah, Yerusalem Timur, dan Betlehem.

- Ancaman Penggusuran: Lebih dari 40 komunitas warga Badui Palestina di area tersebut terancam kehilangan tempat tinggal dan terisolasi dari keluarga mereka.

- Membunuh Solusi Dua Negara: Mengikis harapan pencapaian kesepakatan damai berbasis Two-State Solution.

Latar Belakang Konflik

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dalam Perang Timur Tengah 1967, Israel telah membangun sekitar 160 permukiman yang kini dihuni oleh 700.000 warga Yahudi, berbatasan langsung dengan sekitar 3,3 juta warga Palestina.

Meski sempat menunda rencana pembangunan di E1 selama berdekade-dekade akibat tekanan internasional, pembangunan permukiman kembali melonjak tajam sejak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali memimpin pemerintahan koalisi sayap kanan pada akhir 2022.

Polisi Israel tengah berjalan di Kota Yerusalem.

Israel Terus Berulah di Palestina

Otoritas penjajah Israel mengubah sekolah yang pernah dikelola Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di kamp pengungsi Shu'fat, Yerusalem yang diduduki.

img_title
VIVA.co.id
21 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut