Perempuan Pengungsi Topan Haiyan Rentan Jadi Target Perkosaan

duka korban badai Haiyan di Filipina
duka korban badai Haiyan di Filipina
Sumber :
  • REUTERS/Nino Jesus Orbeta

VIVAnews - Asisten Menteri Pembangunan Internasional Inggris, Justine Greening, meminta Pemerintah Filipina supaya memberikan perhatian lebih kepada wanita dan anak gadis korban pengungsi Topan Haiyan. Menurut Greening mereka menjadi target yang rentan terhadap aksi tindak kekerasan dan pemerkosaan.

Harian Telegraph, Rabu 13 November 2013 melansir permintaan agar Pemerintah Filipina tidak hanya berfokus pada bantuan kemanusiaan internasional yang dikirimkan ke negaranya.

"Kami sangat khawatir tentang keselamatan wanita dan anak gadis di Filipina. Setelah keadaan darurat yang terlihat sebelumnya di Filipina, kami telah melihat meningkatnya tindakan kekerasan terhadap dua korban itu," ujar Greening.

Selain rentan menjadi korban tindak pemerkosaan, lanjut Greening, mereka juga disasar terhadap aksi perdagangan manusia.

Kekhawatiran serupa turut disuarakan oleh anggota Senat Filipina, Nancy Binay. Dia mengatakan demikian, karena adanya laporan mengenai aksi tersebut selama di lokasi pengungsian.

Namun, tidak diketahui berapa jumlah detail aksi pemerkosaan dan kekerasan terhadap wanita yang terjadi di lokasi bencana.

"Saya menerima beberapa laporan tindak pemerkosaan dan kejahatan lainnya terhadap wanita, anak gadis dan anak-anak di area yang hancur akibat amukan Topan Haiyan. Tindakan ini merupakan peringatan, dan saya khawatir adanya penurunan nilai moral dan pemberlakuan norma masyarakat," ujar Binay dan dilansir laman Inquirer.

Senada dengan Greening, dia turut mendorong Pemerintah Pusat, untuk tidak hanya memastikan para pengungsi memperoleh kebutuhan dasar seperti makanan dan tenda, namun hak-hak wanita, anak gadis dan anak-anak, juga harus terpenuhi.

Tambah Personel

Binay menyerukan Tentara Militer Filipina (AFP) dan Polisi Nasional Filipina (PNP) agar mengirimkan lebih banyak personel ke lokasi bencana demi memastikan perdamaian dan keamanan di daerah itu. Dia menyarankan penambahan jumlah personel sebaiknya dilakukan pada malam hari.

Karena jumlah personel AFP dan PNP di lokasi bencana diprediksi tidak terlalu banyak, karena kedua petugas di institusi tersebut turut menjadi korban amukan topan yang disebut warga Filipina Yolanda. 

"Kami tahu, dari pengalaman sebelumnya di negara ini dan di seluruh dunia, di saat bencana melanda, maka wanita dan anak-anak merupakan target yang rentan terhadap aksi kekerasan dan eksploitasi. Kami perlu memastikan bahwa mereka berada dalam perlindungan yang baik," kata Binay. (ren)