Bocah Pembuat Jam yang Ditangkap di AS, Tuntut Ganti Rugi

Ahmed Mohamed
Sumber :
VIVA.co.id
- Keluarga remaja Muslim yang pernah ditangkap polisi Texas, Amerika Serikat, Ahmed Mohamed, menuntut ganti rugi kepada pemerintah daerah dan sekolah senilai US$15 juta atau setara Rp205 miliar. Selain itu, keluarga juga menuntut adanya permintaan maaf resmi akibat keliru telah menahan Ahmed pada 14 September lalu. 

Laman Mirror, Senin, 23 November 2015 melansir Ahmed sempat ditangkap polisi karena memperoleh laporan dari sekolahnya, bahwa dia sudah merakit bom. Padahal, remaja berusia 14 tahun itu hanya ingin menunjukkan jam yang telah dia buat kepada gurunya. 

Pengacara yang mewakili keluarga mengirimkan beberapa surat secara terpisah kepada Wali Kota Irving di bagian barat Dallas dan Distrik Sekolah Mandiri Irving. Menurut pengacara, mereka telah keliru menahan, menangkap secara ilegal dan menginterogasi pelajar tingkat sembilan itu tanpa didampingi orangtua.

Secara detail, keluarga Ahmed menuntut US$10 juta atau setara Rp137 miliar dari pemda dan US$5 juta atau setara Rp68 miliar dari sekolah. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, maka mereka akan mengajukan tuntutan hukum dalam kurun waktu 60 hari ke depan. 
US-ASEAN Summit, Jokowi Dorong Digitalisasi Usaha Kecil

Selain itu, pengacara keluarga Ahmed juga menjelaskan, akibat insiden itu menjadi pemberitaan berbagai tajuk di media, menyebabkan adanya ancaman dan pada akhirnya membuat Ahmed merasa trauma. 
Jokowi ke AS, Bahas Kemerdekaan Palestina dan Terorisme

"Pejabat kepolisian kota Irving secara cepat memutuskan jam yang dirakit tidak berbahaya. Satu-satunya alasan mengapa mereka berlebihan dalam menanggapi kejadian itu karena ras, asal kewarganegaraan dan agama Ahmed," ujar pengacara dalam surat tertulis. 
Presiden Obama Ajukan Tambahan Pajak Baru Minyak

Kepada media, Ahmed mengaku sangat sedih ketika jam yang telah dirakit malah dianggap sebagai ancaman. Penahannya dikritik tajam dan Ahmed justru menuai banyak dukungan dari publik. Puncaknya, Presiden Barack Obama mengundang Ahmed ke Gedung Putih. 

Pada bulan Oktober lalu, dia juga bertemu dengan Presiden Sudan, Omar al-Bashir, di ibukota Khartoum. Ayah Ahmed merupakan imigran asal Sudan yang berangkat menuju ke AS.

Selain itu, dia juga bertemu dengan salah satu pendiri perusahaan mesin pencari Google, Sergey Brin, dan para pejabat berwenang dari Turki, Sudan dan Yordania. 

Bahkan, Yayasan Pendidikan, Ilmu Sains dan Komunitas Qatar menawarkan beasiswa penuh pada bulan lalu. Keluarganya mengatakan, mereka akan pindah dari Texas sehingga Ahmed bisa melanjutkan pendidikan di Qatar. 

Majalah TIME juga memasukkan nama Ahmed dalam 30 sosok remaja paling berpengaruh di tahun 2015. (one)
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya